Jumat, 10 Juli 2009

Pengertian Ta'dib (Naquib Alattas)

 

Masih ada satu konsep kunci lagi yang pada hakikatnya merupakan inti pendidikan dan proses pendidikan, karena konsep-konsep kunci lain yang kita sebutkan di atas semuanya memusatkan makna-maknanya, dalam konteks ini, hanya kepada konsep ini saja. Dengan demikian konsep ini saja sudah cukup memadai dan tepat untuk menunjuk-kan pendidikan, karena konsep kunci ini memang mengenalkan dirinya sebagai 'sesuatu" di dalam mencarinya. Konsep kunci utama ini terkandung mu yang merupakan pengetahuan tentang tujuan dalam istilah adab ادب(.

Adab adalah disiplin tubuh, jiwa dan ruh; disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelek-tual dan ruhaniah; pengenalan dan pengakuan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara hirarkhis sesuai dengan berbagai tingkat (maratib) dan derajatnya (darajat). Karena adab menunjukkan pengenalan dan pengakuan akan kondisi kehidupan, kedudukan dan tempat yang tepat lagi layak, serta disiplin diri ketika berparti-sipasi aktif dan sukarela dalam menjalankan peranan seseorang sesuai dengan pengenalan dan pengakuan itu, pemenuhannya dalam diri seseorang dan masyarakat sebagai keseluruhan mencermin-kan kondisi keadilan ('adl). 


Keadilan itu sendiri adalah pencerminan kearifan (hikmah), yang telah kita definisikan sebagai ilmu berian Tuhan yang memungkinkan penerima menemukan atau meng-hasilkan tempat yang tepat dan layak bagi sesuatu. Kondisi berada pada tempat yang tepat itulah yang kita sebut keadilan; dan adab adalah metoda untuk mengetahui, sehingga dengan itu kita memenuhi kondisi berada pada tempat yang tepat Jadi adab, dalam pengertian yang saya jelaskan di sini, adalah juga pencerminan kearifan. Dalam hubungannya dengan masyarakat, adab adalah tatanan adil yang ada di dalamnya. Adab, didefinisi kan secara singkat, adalah ungkapan (masyhad: مشهد ( keadilan seperti dicerminkan oleh kearifan.

Kita nyatakan bahwa adab dikenal sebagai ilmu tentang tujuan mencari pengetahuan. Tujuan mencari pengetahuan dalam Islam ialah menanam-kan kebaikan dalam diri manusia sebagai manusia dan sebagai diri individual. Tujuan akhir pen-didikan dalam Islam ialah menghasilkan manusia yang baik dan bukan, seperti dalam peradaban Barat, warganegara yang baik. "Baik" dalam konsep manusia yang baik berarti tepat sebagai manusia adab dalam pengertian yang dijelaskan di sini, yakni meliputi kehidupan material dan spiritual manusia. Karena manusia, sebelum men-jadi manusia, telah mengikat perjanjian (mitsaq: ميثاق ( individual secara kolektif dengan Tuhan, serta telah mengenal dan mengakui Allah sebagai Tuhan ar-Rabb: الرت ) ketika ia mempersaksi-kan untuk dirinya dan menegaskan "benar!" (bala: ) pada pertanyaan Allah "Bukankah Aku Tuhanmu?" ( بلى berarti bahwa أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ lum mán 21) الله( Hal ini manusia memperoleh bentuk jasmaniah ia telah dilengkapi dengan 21) kemampuan ilmu pengetahuan ruhaniah (ma'rifah: معرفة ( dan sanggup mengetahui dan meng-akui, dengan kenyataan yang ia katakan secara tegas (gaul: قول ( melalui daya intelektual ujaran (nuthq), kenyataan dan kebenaran kondisi wujudiahnya dalam hubungan dengan Tuhannya, yakni Pemilik, Pencipta, Pengurus dan Pemelihara-nya. 

Sesungguhnya, perjanjian ini dan segala kandungannya adalah hakikat sebenarnya dari agama (ad-din) sebagaimana haknya dalam Islam, sebab semua prinsip Islam akhirnya kembali pada kondisi ruhaniah sebelum lahir.22) Jadi orang-orang yang mempunyai pengenalan ruhaniah merujuk pada manusia dalam kondisi ruhaniahnya sebagai an-nafsun-nathiqah, ruh yang berakal. Aspek lain dari tabiat manusia merujuk pada ungkapannya dalam bentuk jasmaniah: an-nafsul-hayawaniah ) النفس الحيوانيةewani. Karena itu manusia adalah "pribadi rangkap": suatu wujud tunggal yang memiliki tabiat ganda dengan dua ruh (nafsan yang bertalian dengan itu; yang satu lebih tinggi dari yang lain. Pengenalan dan pengakuan diri-hewani yang lebih rendah tentang tempatnya yang tepat dalam hubungan dengan diri-berakal yang lebih tinggi inilah yang memberikan kepada diri yang lebih rendah itu adabnya. "Pengenalan" berarti menemukan tempat yang tepat sehubungan dengan apa yang dikenalinya; dan pengakuan berarti tindakan yang bertalian dengan itu ('amal), yang lahir sebagai akibat menemukan tempat yang tepat dari apa yang dikenalinya. Pengenalan saja tanpa pengakuan adalah kecongkakan; karena haqq pengakuanlah untuk diakui. Pengakuan saja tanpa pengenalan hanyalah kejahilan belaka, karena haqq pengakuanlah untuk mewujudkan pengenalan. Adanya salah satu saja tanpa yang lain adalah bathil, karena dalam Islam ilmu tidak berguna apa-apa tanpa amal yang menyertainya, begitu juga amal tidak berguna tanpa ilmu yang membimbingnya. Manusia yang adil ialah yang menjalankan adab dalam dirinya, sehingga meng-hasilkan wujudnya sebagai manusia yang baik.

Konsep adab, sebagaimana telah saya rumus-kan di sini, ditafsirkan dari maknanya sebagaimana dipahami dalam pengertian Islaminya di saat-saat dini, sebelum adanya pembatasan-pembatasan atas konteksnya oleh konsep perbaikan atau peng-halusan kebudayaan berkenaan dengan sastra dan etiket sosial, yang banyak dipengaruhi oleh inovasi-inovasi para jenius sastra. Dalam artinya yang asli dan dasar, adab berarti undangan kepada suatu perjamuan. Gagasan tentang suatu perjamu-an menyiratkan bahwa si tuan rumah adalah seorang yang mulia dan adanya banyak orang yang hadir, dan bahwasanya yang hadir adalah orang-orang yang menurut perkiraan tuan rumah pantas mendapatkan kehormatan untuk diundang dan, oleh karena itu, mereka adalah orang-orang yang bermutu dan berpendidikan tinggi yang diharap-kan bisa bertingkahlaku sesuai dengan keadaan, baik dalam berbicara, bertindak maupun etiket. Peng-Islaman konsep dasar adab sebagai suatu undangan perjamuan bersama seluruh implikasi konseptual yang terkandung di dalamnya yang bahkan waktu itu pun sudah mencakup pula ilmu secara bermakna dan mendalam diterangkan dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud, ketika Qur'an Suci sendiri digambarkan sebagai undangan Tuhan untuk menghadiri suatu perjamuan di atas bumi, dan kita sangat dianjurkan untuk mengambil bagian di dalamnya dengan jalan mempunyai pengetahuan yang benar ten-tangnya: 23)

23( Ma'dabat di sini berarti mad'at مدعات(. Lihat Ibnu Manzhur, vol. 1, hal, 206, kol. 2. Mengenal konsep Islamisasi vang telah saya perkenalkan di sini. Lihat hal. 1826.

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدِبَةُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ فَتَعَلَمَوْا مِنْ مَا دِبَتِهِ

Qur'an Suci adalah undangan Tuhan kepada suatu perjamuan ruhaniah, dan pencapaian ilmu yang benar tentangnya berarti memakan makanan yang baik di dalamnya.

Sebagaimana kenikmatan makanan yang baik dalam suatu perjamuan akan banyak bertambah dengan kehadiran teman-teman yang mulia lagi sopan; juga, sebagaimana makanan harus kita makan sesuai dengan aturan-aturan tingkahlaku, perilaku dan etiket yang baik, maka ilmu pun harus disanjung tinggi, dinikmati dan didekati dengan perilaku yang esuai dengan sifat-sifatnya yang mulia. Demikianlah, orang yang memiliki pengenalan ruhani, berbicara tentang ilmu sebagai makanan dan kehidupan jiwa; dialah yang mem-buat jiwa menjadi hidup. Ta'wil yang menafsirkan arti 'yang hidup" (al-hayy) sebagai 'yang me-ngetahui" (al-'alim) pada ayat "Dia yang me-ngeluarkan yang hidup dari yang mati''24), se-sungguhnyalah mengacu kepada pengetahuan sebagai makanan dan kehidupan jiwa ini. Pada puncaknya, pengetahuan yang sebenarnya tentang itu adalah "pengecapan cita rasanya", "penikmat-an ruhaniah" (dzawq: sebagaimana di-bicarakan oleh para ahli tersebut, yang sekaligus menyingkapkan tirai yang menyelubungi hakikat dan kebenaran sesuatu sehingga tampak pada penglihatan ruhani diri yang menyaksikannya ( كشف :kasyf)

Berkenaan dengan ini, adab melibatkan tindak-an untuk mendisiplinkan pikiran dan jiwa; hal ini berarti pencapaian kualitas-kualitas dan sifat-sifat yang baik oleh pikiran; penyelenggaraan tindakan-tindakan yang betul, bukan yang menyeleweng, yang benar atau tepat dan bukan yang salah; penyelamatan diri dari kehilangan kehormatan. Jadi adab, sebagai tindakan-tindakan disipliner, pencapaian-pencapaian selektif, tingkahlaku yang benar dan pemeliharaan kualitatif berikut segala pengetahuan yang terkandung di dalamnya, me-rupakan pemenuhan tujuan pengetahuan.

Jika kita berkata bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk menghasilkan seorang manusia yang baik, maka kita tidak bermaksud mengatakan bahwa menghasilkan sebuah masyarakat yang baik bukanlah merupakan tujuan, karena masyarakat terdiri dari perseorangan-perseorangan maka mem-buat setiap orang atau sebagian besar di antaranya menjadi orang-orang baik berarti pula menghasil-kan suatu masyarakat yang baik. Pendidikan adalah bahan masyarakat. Penekanan pada adab yang mencakup 'amal dalam pendidikan dan proses pendidikan adalah untuk menjamin bahwa-sanya ilmu ('ilm) dipergunakan secara baik di dalam masyarakat. Karena alasan inilah maka orang-orang bijak, para cerdik cendekia dan para sarjana di antara orang-orang Islam terdahulu mengombinasikan 'ilm dengan 'amal dan adab, dan menganggap kombinasi harmonis ketiganyasebagai pendidikan. Pendidikan dalam kenyataan-)rena adabe-nya adalah ta'dib ) bagaimana didefinisikan di sini, sudah mencakup 'ilmu dan 'amal sekaligus.

تأديب ادیب

Dalam hadis yang dikutip di atas, kaitan kon-septual antara 'ilm dan adab telah dibentuk. Meski-pun demikian, di dalam hadis lain yang lebih terkenal, bukan saja kaitan konseptual antara kedua konsep itu telah terbentuk jauh lebih langsung, melainkan ia juga diungkapkan se-demikian, sehingga menyiratkan identitas antara adab dan 'ilm. Hadis yang saya maksud itu adalah sabda Nabi Suci saw:

أَدَبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأْدِينِي

"Tuhanku telah mendidikku, dan dengan demiki-an menjadikan pendidikanku yang terbaik."

Kata yang telah saya terjemahkan, sebagai "mendidik" adalah addaba, menurut ibnu, Manzhur merupakan padanan kata allama ) 25) علم( dan yang oleh az-Zajjaj dikatakan, sebagai cara Tuhan mengajar Nabi-Nya.26) Mashdar addaba yakni ta'dib yang telah saya terjemahkan sebagai "pendidikan" mempunyai arti yang sama, dan kita dapat rekanan an p

konseptualnya di dalam istilah ta'lim. Dalam pendefinisian kita tentang "makna", kita katakan bahwa "makna" adalah pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem. 27) Karena pengetahu-an terdiri dari sampainya, baik dalam arti hushul dan wushul, makna di dalam dan oleh jiwa, maka kita definisikan "pengetahuan" sebagai pengenalan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membawa kepada pengenalan tentang tempat yang tepat dari Tuhan dalam tatanan wujud dan keperiadaan 28) Agar pengetahuan bisa dijadikan "pengetahuan", kita masukkan unsur dasar peng-akuan di dalam pengenalan, dan kita definisikan kandungan pendidikan ini sebagai pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam keteraturan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat-tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan keperiada-an. 29) Kemudian kita definisikan pendidikan, termasuk pula proses pendidikan, sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan dan pengaku-an tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperiadaan.

Mengingat makna pengetahuan dan pendidikan hanya berkenaan dengan manusia saja dan, sebagai terusannya, dengan masyarakat pula, maka pe-ngenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan mesti paling utama diterapkan pada pengenalan dan pengakuan manusia itu sendiri tentang tempatnya yang tepat yaitu kedudukannya dan kondisinya dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarganya, kelompoknya, komunitasnya dan masyarakatnya, serta kepada disiplin pribadi-nya di dalam mengaktualisasikan dalam dirinya pengenalan dengan pengakuan. Hal ini berarti bahwa dia mesti mengetahui tempatnya di dalam tatanan kemanusiaan yang mesti dipahami sebagai teratur secara hirarkis dan sah ke dalam berbagai derajat (darajat) keutamaan berdasarkan kriteria al-Qur'an tentang akal, ilmu, dan kebaikan ihsan : إحسان( - dan mesti bertindak sesuai dengan pengetahuan dengan cara yang positif, dipujikan dan terpuji. Pengenalan diri pribadi yang dipenuhi dalam pengakuan diri inilah yang di-definisikan di sini sebagai adab. Apabila kita ber-kata bahwa pengakuan merupakan unsur fundamental dalam pengenalan yang benar, dan bahwa pengakuan tentang apa-apa yang dikenali inilah yang menjadikan "pendidikan" suatu pendidikan, 31) maka kita terutama sekali mengacu kepada tem-pat-tempat yang tepat dalam tatanan kemanusiaan serta dalam tatanan pengetahuan dan wujud.

Adab ialah pengetahuan yang mencegah ma-nusia dari kesalahan-kesalahan penilaian. Adab berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai-bagai tingkat dan derajat-tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah intelektual maupun ruhaniah seseorang.

Dalam pengertian dan penjelasan tersebut di atas, maka kata-kata Nabi Suci: "Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang paling baik" bisa diuraikan dengan kata-kata sendiri sebagai berikut: "Tuhan-ku telah membuatku mengenali dan mengakui, dengan apa (yaitu adab) yang secara berangsur-angsur telah Dia tanamkan ke dalam diriku, tem-pat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam penciptaan, sehingga hal itu membimbingku ke arah pengenalan dan pengakuan tempat-Nya yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperiadaan dan, sebagai akibatnya, la telah membuat pendidikanku yang paling baik". Sehingga tidak perlu lagi ada kebimbangan maupun keraguan dalam menerima proposisi bahwa konsep pendidikan dan proses pendidikan telah tercakup di dalam istilah ta'dib dan bahwa istilah yang tepat untuk me-nunjukkan "pendidikan" di dalam Islam sudah cukup terungkapkan olehnya.

Tarbiyah dalam konotasinya yang sekarang, menurut pendapat saya, merupakan istilah yang relatif baru, yang bisa dikatakan telah dibuat-buat oleh orang-orang yang mengaitkan dirinya dengan pemikiran modernis. Istilah tersebut di-maksudkan untuk mengungkapkan makna pen-didikan tanpa memperhatikan sifatnya yang sebenarnya. Adapun kata-kata Latin educare dan educatio, yang dalam bahasa Inggris berarti "educate" dan "education", secara konseptual dikaitkan dengan kata-kata Latin educare, atau dalam bahasa Inggris "educe" menghasilkan, mengembangkan dari keperiadaan yang sembunyi atau potensial, yang di dalamnya "proses menghasilkan dan mengembangkan" mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik dan ma-terial. Yang dituju dalam konsepsi pendidikan yang diturunkan dari konsep-konsep Latin yang dikembangkan dari istilah-istilah tersebut di atas meliputi spesies hewan dan tidak dibatasi pada "hewan berakal". Meskipun bisa diakui bahwa latihan-latihan intelektual dan moral telah tercakup ke dalam gagasan dasar pendidikan atau education, hal tersebut tidak lantas inheren dalam istilah-istilah dasar itu sendiri, dan merupakan suatu tambahan yang dikembangkan dari spekulasi filosofis tentang etika. Lagipula, di samping itu, latihan intelektual dan moral yang ditunjukkan-nya disesuaikan dengan tujuan-tujuan fisik dan material berkenaan dengan manusia sekuler, masyarakat dan negaranya.

Mereka yang membuat-buat istilah tarbiyah untuk maksud pendidikan pada hakikatnya men-cerminkan konsep Barat tentang pendidikan. Mengingat istilah tarbiyah, tidak sebagaimana masih mereka nyatakan, adalah suatu terjemahan yang jelas dari istilah "education" menurut artian Barat, karena makna-makna dasar yang dikandung olehnya mirip dengan yang bisa ditemui di dalam rekanan Latinnya. Meskipun para penganjur peng-gunaan istilah tarbiyah terus membela istilah itu yang mereka katakan sebagai dikembangkan dari al-Qur'an pengembangannya didasarkan atas dugaan belaka. Hal ini mengungkapkan ke-tidaksadaran mereka akan struktur semantik sistem konseptual al-Qur'an, mengingat secara semantik istilah tarbiyah tidak tepat dan tidak memadai untuk membawakan konsep pendidikan dalam pengertian Islam sebagaimana akan dipapar-kan berikut ini.

Melalui kata al-ta'dib ini Al-Attas ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber pada ajaran agama ke dalam diri manusia, serta menjadi dasar bagi terjadinya proses islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan ini menurutnya perlu dilakukan dalam rangka membendung pengaruh materialisme, sekularisme, dan dikotomisme ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Barat.