Senin, 27 Juli 2026

Terjemah Jurnal, The Concept of Spiritual Education in Surah Ibrahim

 


TERJEMAH

Konsep Pendidikan Spiritual dalam Surah Ibrahim Ayat 35-41 Menurut Muhammad Quraisy Shihab

ABSTRAK
Peneliti ini mengkaji konsep pendidikan spiritual menurut Muhammad Quraisy Shihab dalam Surah Ibrahim ayat 35-41 dan relevansi pendidikan spiritual dalam konteks masa kini. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dan pengumpulan data dilakukan dengan metode irfani (Sufisme) dan pendekatan analisis. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis induktif, yaitu menarik kesimpulan dengan berangkat dari interpretasi spesifik menuju kesimpulan umum. Sedangkan interpretatif adalah mencari makna di balik makna eksplisit dan implisit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan spiritual menurut Muhammad Quraisy Shihab dalam Surah Ibrahim ayat 35-41 menggunakan metode irfani (ilmu tasawuf) dan pendekatan analisis sehingga dapat dilihat makna materi dan nilai-nilai pendidikan spiritual yang terkandung dalam Surah Ibrahim ayat 35-41 yaitu nilai iman, ibadah, kesabaran, keikhlasan, syukur, dan akhlak. Relevansi pendidikan spiritual dalam konteks keberagaman Islam saat ini adalah makna pertama dari ritual salat, puasa, zakat, dan haji. Jika perkembangan teknologi dan komunikasi yang pesat mengharuskan manusia untuk saling mengingat, menasihati agar selalu melakukan hal yang benar dan menjauhi dosa. Maka, perkembangan teknologi saat ini dengan melihat pendidikan spiritual di tengah media sosial yang viral dapat kita hindari, tetapi harus multi-saluran dalam mengatasi tantangan globalisasi.
Kata kunci: Pendidikan Spiritual, Surah Ibrahim, Ayat 35-41, Quraisy Shihab.

1. Pendahuluan
Kehidupan dapat diibaratkan seperti cahaya yang menerangi dinding rumah, sedangkan roh adalah cahaya itu. Aliran roh dan pergerakannya di dalam pikiran seperti pergerakan lampu di sudut rumah yang bergerak ketika seseorang menggerakkannya. Roh ini adalah sesuatu yang menakjubkan dan bersifat rabbani yang tidak dapat diketahui esensinya oleh sebagian besar akal manusia.

Al-Nafs dipahami sebagai istilah yang mencakup kekuatan atau daya amarah dan keinginan (nafsu) dalam diri manusia. Secara umum, pemahaman ini digunakan oleh para ahli Sufisme, karena mereka menafsirkan al-nafs sebagai sumber sifat-sifat tercela dalam diri manusia. Pendidikan spiritual berorientasi pada pengembangan jiwa manusia yang sehat yang ditandai dengan adanya integritas jiwa yang damai, meridhai, dan jiwa yang diberkati (muthmainah, radhiyah, mardhtyah).

Pendidikan spiritual diharapkan dapat memberikan integrasi nilai-nilai dalam tubuh dan jiwa yang merupakan substansi manusia dan tidak dapat dipisahkan sehingga manusia mampu menjalankan fungsinya dengan sempurna. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan spiritual memiliki fondasi utama pada potensi dengan mensinergikan nilai-nilai pengetahuan, emosi, dan praktik keagamaan seseorang.

Spiritualitas yang diambil dari kata roh (sesuatu yang memberi kehidupan atau vitalitas pada suatu sistem) mengacu pada semacam kebutuhan manusia untuk menempatkan upaya seseorang dalam kerangka makna dan tujuan yang jelas.3 Spiritualitas adalah potensi bawaan manusia yang membuatnya terhubung dengan kekuatan yang lebih besar, sehingga manusia merasa ada hubungan antara diri mereka sendiri dan alam semesta, yang diterapkan dalam sejumlah nilai. Spiritualitas bersifat universal, lintas etnis, lintas geografis, lintas politik, lintas ekonomi dan tidak ada batasan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki nilai-nilai spiritualitas ini, ia tidak melihat orang lain dalam ruang yang terbatas.

Spiritualitas atau religiusitas lebih diarahkan pada aspek-aspek yang berada di dasar hati, getaran hati nurani manusia, sikap pribadi yang sulit ditebak atau misteri bagi orang lain, dan sebagai cita rasa total dari diri seseorang. Ekspresi religiusitas terlihat dari sikap orang beragama seperti berdiri dengan khidmat dan membungkuk sebagai ekspresi pengabdian menghadap Tuhan dan siap mendengarkan firman ilahi di dalam hati.

Pendidikan spiritual dapat diartikan sebagai upaya untuk hidup di dunia yang berpusat pada rezeki Allah dan selalu berusaha untuk hidup dengan mengambil bagian dalam sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa dan selalu bekerja untuk membawa kebaikan, keselamatan, dan kemakmuran di dunia. Proses pendidikan ini memberikan bimbingan dan arahan menuju realisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan manusia.

Pendidikan spiritual sebagai transmisi ajaran agama dari generasi ke generasi karena ini tidak hanya melibatkan aspek kognitif (pengetahuan tentang ajaran agama), tetapi juga aspek afektif dan psikomotor (sikap dan praktik ajaran Islam) yang juga penting.

Pandangan Ibnu Katsir tentang Surah Al-Sajdah ayat 15-17 adalah perintah dan kewajiban kepada Allah untuk mendengarkan dan menaati setiap perkataan dan perbuatan-Nya. Mereka juga selalu melaksanakan shalat sunnah di malam hari.

Pendidikan spiritual dikenal sebagai proses pembentukan kepribadian yang didasarkan pada kecerdasan emosional dan spiritual (ruhaniyah) yang berlandaskan pada masalah diri sendiri. Keseimbangan penggunaan kecerdasan emosional dan spiritual dalam pembentukan kepribadian akan menciptakan manusia yang sempurna, serta menjadi orang-orang yang memiliki ketakwaan individu dan ketakwaan sosial.

Hasan al-Bana mengatakan bahwa pendidikan spiritual adalah tarbiyahruhiyah yang bertujuan untuk memperkuat barisan ta'aruf. Tujuannya adalah untuk memperkuat jiwa dan roh, mengantisipasi adat dan tradisi, terus menjaga hubungan baik dengan Allah, dan selalu memohon pertolongan kepada Allah. Tanpa mengurangi aktivitasnya dalam kehidupan di dunia, dengan kata lain, selalu menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat.

Said Hawwa memasukkan pendidikan hati ke dalam konsep pendidikan Ruhiyah, dan menurutnya pendidikan hati dilakukan melalui beberapa tahapan, sebagaimana tahapan tersebut berkembang dalam proses perjalanan menuju Allah SWT. Pendidikan spiritual didasarkan pada pengalaman yang dilakukan secara sadar untuk mengarahkan jiwa agar terus berjalan sesuai dengan fitrahnya, yaitu beriman kepada Allah dan mengembangkan potensi ilahi hingga mencapai puncak keimanan kepada Allah, sehingga jiwa juga dapat mendorong aktivitas fisik atau tindakan sehari-hari untuk selalu berjalan sesuai dengan syariat.

Istilah "spiritual" di sini secara sederhana merujuk pada keyakinan rasional seseorang terhadap identitas dirinya sebagai diri metafisik yang pada dasarnya berbeda dari tubuh, termasuk otak, materi, dan semua bagian yang membentuk tubuh.

Menurut Islam, spiritualitas mengacu pada proses perjalanan ruhiyah melalui elaborasi mendalam tentang kesesuaian syariat yang merupakan tatanan formal agama (eksoterik) dan Sufisme dari dimensi esoterik Islam yang didasarkan pada pengalaman batin. 10 Lebih spesifiknya, secara fungsional hubungan dengan Tuhan adalah jalan, dan spiritualitas adalah cahaya jalan. 11

Tuhan telah menganugerahkan manusia dengan fitrah dasar melalui roh kudus, sehingga Islam mewajibkan puasa (mengendalikan nafsu) untuk memulihkan penyembahan berhala (Idul Fitri) yang digambarkan oleh Nabi kepada kita seperti bayi yang baru lahir, lahir ke dunia ini dengan membawa dasar spiritual yang suci dan sehat sesuai dengan hukum waris. Dosa dan perubahan yang terjadi padanya adalah "kebetulan" yang tidak ada hubungannya dengan fitrah dasar mereka. Itu adalah tindakan kekerasan terhadap alam atau salah orientasi dan kemerosotan naluri yang tidak hanya menyebabkan penyakit mental tetapi juga menghambat kemandirian jiwanya.

Pendidikan Islam yang ideal bersifat transenden dan integral, tidak memisahkan ranah fisik dan metafisik, karena keduanya saling bergantung. Pendidikan harus mampu melatih perasaan siswa sehingga dalam kehidupan sikap, tindakan, keputusan dan pendekatan terhadap segala jenis pengetahuan, mereka sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual.

Muhammad Quraish Shihab lahir pada tanggal 16 Februari di Kabupaten Si Dendeng Rappang, Sulawesi Selatan, sekitar 190 km dari Kota Ujungpandang. Ia berasal dari keturunan Arab yang terpelajar. Shihab adalah nama keluarganya (ayahnya) sebagaimana umum digunakan di wilayah Timur (anak benua India termasuk Indonesia).

Muhammad Quraish Shihab dibesarkan dalam lingkungan keluarga Muslim yang taat, sejak usia sembilan tahun ia terbiasa mengikuti ayahnya yang sedang belajar. Ayahnya, Abdurrahman Shihab (1905-1986), adalah seorang tokoh yang banyak membentuk kepribadian dan bahkan kemudian ilmu pengetahuan. Ia menyelesaikan pendidikannya di Jamiyyah al-Khair Jakarta, lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Ayahnya adalah seorang profesor di bidang tafsir dan pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Alauddin Ujung Pandang dan juga sebagai pendiri Universitas Muslim Indonesia Ujung Pandang (UM1).

Nabi Ibrahim selalu menyerahkan semua ujian hidupnya kepada Allah, disertai dengan doa-doa yang dipanjatkan. Contohnya, ketika Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan putranya (Siti Hajar dan Nabi Ismail) yang sangat dicintainya di daerah tandus dan tanpa pepohonan, tetapi karena itu atas perintah Allah, Nabi Ibrahim melakukannya dengan rela untuk menyambut panggilan Allah.

Hadits-hadits yang berkaitan dengan pendidikan spiritual adalah:
Artinya: "Dari Abi Yahya Suhaib bin Sinan ra berkata: Bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sungguh menakjubkan, sesungguhnya semua urusan orang beriman penuh dengan kebaikan, jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu menjadi baik baginya, dan jika ditimpa kesulitan ia juga bersyukur." Dari hadits di atas kita dapat menemukan setidaknya dua kata kunci penting dalam pendidikan spiritual, yaitu bersabar dan bersyukur.

Inti dari kecerdasan spiritual adalah usaha seseorang sebagai makhluk Allah untuk beriman kepada keberadaan Allah. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual memiliki pengendalian diri yang baik, tidak egois, apalagi berbuat salah kepada orang lain.

Di zaman modern, para intelektual berusaha untuk mengemukakan teori kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai, seperti yang diketahui orang, kecerdasan spiritual (Spiritual Quoution) atau disingkat SQ. Kecerdasan spiritual berkaitan dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan jiwa manusia, dalam bentuk ibadah sehingga ia dapat kembali kepada penciptanya dalam keadaan suci. Jadi kecerdasan spiritual adalah kecerdasan hati yang berkaitan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebih manusiawi, sehingga mereka dapat mencapai nilai-nilai luhur yang belum tersentuh oleh pikiran manusia.

Manusia menyadari bahwa kebahagiaan sebagai perasaan subjektif lebih ditentukan oleh rasa makna. Makna bagi sesama manusia, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia adalah Tuhan. 1--Manusia mencari makna, ini adalah penjelasan mengapa dalam keadaan sakit dan penderitaan beberapa orang masih bisa tersenyum. Karena kebahagiaan tercipta dari rasa makna, dan tidak sama dengan pencapaian tujuan.

2. Tinjauan Pustaka
1.2. Studi Sebelumnya (subjudul)
Pendidikan spiritual adalah penguatan kekuatan spiritual anak-anak dan penanaman iman dalam diri mereka sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan naluriah keagamaan mereka, mengelola fitrah mereka dengan tata krama dan meningkatkan kecenderungan mereka (tekad, bakat), dan mengarahkan mereka kepada nilai-nilai spiritual, prinsip-prinsip, dan teladan yang mereka peroleh dari iman yang benar kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul, hari-hari akhir, dan takdir baik dan buruk mereka.

Pendidikan berbasis spiritual dalam makalah ini didefinisikan sebagai sebuah konsep, sebuah sistem pendidikan yang menekankan pengembangan kemampuan spiritual atau kerohanian dengan standar spiritual yang dapat dirasakan oleh siswa untuk mencapai kesempurnaan hidup sesuai dengan standar Islam. Pengembangan kemampuan spiritual tidak terbatas pada siswa, tetapi mencakup semua praktisi pendidikan. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa mendidik dan mengikuti pendidikan adalah ibadah. Ibadah secara fungsional bertujuan pada pencerahan spiritual.

Pendidikan Berbasis Spiritual didasarkan pada keyakinan bahwa kegiatan pendidikan adalah ibadah kepada Allah SWT. Manusia diciptakan sebagai hamba Allah dan diberi mandat untuk menjaga kesuciannya. Secara umum, pendidikan berbasis spiritualitas berfokus pada spiritualitas sebagai potensi utama dalam mendorong setiap tindakan pendidikan dan pengajaran, dalam hal ini dipahami sebagai sumber normatif inspiratif dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, dan sekaligus spiritualitas sebagai tujuan pendidikan.

Sebenarnya, pendidikan spiritual digambarkan sebagai salah satu alat ukur (standar pengukuran) dalam mengembangkan berbagai macam kepribadian manusia dengan pertumbuhan/perkembangan yang lengkap (termasuk segala hal), merupakan sumber bimbingan bagi akal budi. Dengan iman kepada Allah SWT dan memvalidasi ketuhanan-Nya, serta kejernihan jiwa dengan kedamaian dan ketenangan, menyucikan akhlak dengan memperindah diri dengan kebajikan, nilai-nilai moral, dan teladan yang baik, membersihkan tubuh dengan menggunakannya di jalan yang benar dan mencegahnya dari perilaku immoral dan perilaku tercela, serta mendorongnya untuk beribadah dan melakukan amal kebaikan yang bermanfaat bagi individu dan kelompok (masyarakat), dan juga menjalin hubungan baik dengan sesama dalam masyarakat dengan adanya solidaritas, sinergi (saling mendukung), dan saling membantu dengan kebaikan dan ketakwaan.

Howard Gardner, pencetus teori kecerdasan majemuk, memilih untuk tidak memasukkan kecerdasan spiritual ke dalam "kecerdasan" karena hal itu bertentangan dengan kodifikasi ilmiah kriteria terukur (kuantitatif). Sebagai gantinya, Gardner menyarankan "kecerdasan eksistensial" yang sesuai. Para pendukung Gardner menanggapi hal ini dengan meneliti bagan pemikiran eksistensial sebagai dasar spiritualitas. Namun, Gardner membentuk landasan ilmiah dalam disiplin teori pendidikan dan interdisipliner, yang menghasilkan munculnya wacana tentang kecerdasan spiritual.

Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah bahwa kecerdasan spiritual tidak selalu terkait dengan agama. Dan orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik akan menyelaraskan antara hati, ucapan, dan perbuatan, selaras dengan apa yang ada di dalam hati, ucapan, dan perbuatannya.

M.Quraish Shihab lebih lanjut menjelaskan bahwa potensi hati mencakup potensi untuk dapat mencapai inspirasi dan cahaya Tuhan. Alat utama pertama untuk mengetahui hal-hal materi adalah telinga dan mata, sedangkan alat utama untuk memperoleh pengetahuan non-materi adalah hati. Pengetahuan pada kenyataannya memiliki aspek keberadaan yang tak terlihat yang tidak dapat dipahami oleh mata dan pikiran. Banyak esensi pengetahuan yang tidak dapat dicapai oleh indra dan pikiran, seperti inspirasi dan wahyu. Kebenaran inspirasi dan wahyu tidak mudah diakses oleh indra dan pikiran, dan akan lebih mudah dipahami dengan menggunakan potensi hati.24

Analisis penulis bahwa kecerdasan spiritual digunakan dalam menempatkan nilai-nilai, berarti bahwa setiap individu dapat memposisikan dirinya untuk membentuk perilaku yang baik. Ary Ginanjar mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai: Kemampuan untuk memberi makna pada ibadah untuk setiap perilaku dan aktivitas melalui langkah-langkah dan pikiran yang alami, menjadi manusiawi, dan memiliki pola pikir monoteistik (integralistik), dan berprinsip hanya karena Allah. Kecerdasan spiritual dapat diwujudkan jika manusia mampu berperilaku dengan benar sesuai dengan fitrah jiwa sehingga memiliki pola pikir yang baik dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Menurut Toto Tasmara: Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan suara hatinya atau bisikan kebenaran ilahi dalam cara ia mengambil keputusan atau membuat pilihan, berempati, dan beradaptasi. Kecerdasan spiritual sebagian besar ditentukan oleh upaya untuk membersihkan dan mencerahkan hati sehingga dapat memberikan nasihat dan arahan tindakan serta bagaimana kita mengambil keputusan.

Setiap manusia memiliki pikiran dan pemikiran, tetapi kemampuan berpikir setiap orang tidak semuanya sama. Ada yang memiliki pikiran dan hati yang keras dan ada yang lembut. Semua tergantung pada kepribadian manusia dalam bertindak.

Sementara itu menurut Marsha Sinetar: Kecerdasan spiritual adalah pemikiran yang diilhami oleh dorongan dan efektivitas, keberadaan atau kehidupan ketuhanan yang menyatukan kita sebagai bagian-bagiannya. Lebih lanjut, Marsha Sinetar mengatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah cahaya, ciuman kehidupan yang membangunkan kehidupan kita yang tertidur.

Kecerdasan spiritual melibatkan kemampuan untuk menghayati kebenaran terdalam. Artinya, mewujudkan hal terbaik, utuh, dan paling manusiawi dalam pikiran. Gagasan, energi, nilai-nilai, visi, dorongan, dan arah panggilan hidup mengalir dari dalam, dari keadaan kesadaran yang hidup dalam cinta. Ini berarti, kecerdasan spiritual membuat manusia hidup bersama orang lain dengan cinta, ketulusan, dan ihsan yang semuanya mengarah kepada Yang Ilahi.

Secara pasti, pendidikan spiritual tampaknya telah banyak dikemukakan oleh berbagai ahli. Ahmad Suhailah berpendapat bahwa pendidikan spiritual adalah penanaman cinta Allah di hati para siswa yang membuat mereka mengharapkan ridha Allah SWT dalam setiap ucapan, perbuatan, sikap, dan perilaku, kemudian menjauhkan diri dari hal-hal yang mendatangkan murka-Nya.

Abu Bakar Aceh mendefinisikan pendidikan spiritual sebagai upaya untuk mencari hubungan dengan Allah melalui proses pendidikan dan pelatihan sehingga seseorang dapat bertemu (liqa) dan mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sa'id Hawa mendefinisikan pendidikan spiritual dalam Islam sebagai upaya untuk membersihkan jiwa menuju Allah SWT. Dari jiwa yang kotor menjadi jiwa yang bersih, dari pikiran yang belum tunduk pada syariat menjadi pikiran yang sesuai dengan syariat, dari hati yang keras dan sakit menjadi hati yang tenang dan sehat, dari jiwa yang menjauh dari pintu Allah SWT, lalai dalam beribadah dan tidak benar-benar melakukannya, menuju jiwa yang mengenal Allah SWT, selalu menjalankan hak-hak untuk beribadah kepada-Nya, dari fisik yang tidak taat pada aturan syariat menjadi fisik yang selalu berpegang pada aturan syariat Allah SWT.

Menurut Imam Ghazali, kualitas hati, bersih atau kotor, terang atau gelap sangat bergantung dan ditentukan oleh perilaku manusia itu sendiri. Dikatakan bahwa jika seseorang mencintai agama dan suka berbuat kebaikan maka hatinya bersih dan terang.

Fitrah manusia diciptakan (dimiliki/dilahirkan) oleh Allah SWT, dan Dia telah menyeru dalam fitrah mereka kecenderungan alami berupa iman, monoteisme, dan keberagaman. Pengaruh penting dari pendidikan spiritual adalah sebagai berikut:

1. Tulus kepada Allah SWT
Salah satu pengaruh terpenting dari pendidikan spiritual yang sejati adalah menanamkan ketulusan dalam diri seorang mukmin, dengan menjadikan niat, ucapan, dan perbuatannya dilakukan dengan tulus demi Allah SWT, ia tidak mencarinya kecuali keridhaan Allah, mereka bebas dari keinginan untuk mencari kesenangan, kemuliaan, dan hal-hal duniawi.

Sesungguhnya keikhlasan kepada Allah SWT dalam segala tujuan dan usaha akan membangun hubungan langsung dan abadi dengan Allah SWT, dan menyucikan jiwa seorang mukmin serta membersihkan dirinya, dan menjadikannya hamba yang saleh dalam agamanya dan dunianya, untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan setiap masyarakat tempat ia tinggal, dan menjadikannya selalu taat dan memperhatikan Tuhannya dalam setiap gerak dan kondisi, dan ia menghadap-Nya dengan segenap jiwanya, dengan zikir lisan, dengan mengambil pelajaran dalam pikirannya, tekadnya, dan dengan semua perbuatan dan usaha yang dilakukannya melalui tangan dan kakinya.

2. Tawakkal (Penyerahan Diri) kepada Allah SWT
Tawakkal kepada Allah akan menyebarkan kedamaian, ketenangan, dan kenyamanan dalam diri seorang mukmin, hal ini berkaitan dengan kesehatan mental, kecerdasan, dan kesehatan tubuh karena merupakan penyerahan diri kepada Allah yang melindungi diri dari rasa takut, penyakit mental, frustrasi, kecenderungan, tekanan pikiran yang dapat mengubah kebahagiaan manusia menjadi kesusahan dan penderitaan, ketenangan mereka menjadi kekacauan, optimisme menjadi pesimis, hal-hal positif menjadi negatif, dan kesuksesan menjadi kegagalan. 35

Sesungguhnya, berserah diri kepada Allah SWT sangat penting bagi jiwa, pikiran, dan tubuh yang dibutuhkan oleh setiap manusia, baik orang yang mampu maupun yang lemah, yang menghakimi dan yang dihakimi, besar maupun kecil, laki-laki maupun perempuan, yang berilmu maupun yang dermawan, semuanya membutuhkan Allah SWT karena Ia mampu mengabulkan doa mereka dan dapat memenuhi permintaan mereka, membantu mereka menjadi lebih baik, dan meringankan penderitaan mereka.

3. Istiqomah
Salah satu pengaruh penting dalam pendidikan spiritual adalah pembentukan kebiasaan istiqomah bagi seorang mukmin, yang berarti bahwa ia selalu melakukan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, serta mematuhi aturan-aturan-Nya, dan ia selalu merasakan keberadaan Allah di setiap waktu dan tempat, dan mendorong dirinya untuk mencari keridhaan-Nya dalam semua perbuatan dan selalu bertawakkal kepada-Nya dengan semua niatnya, dengan demikian kebiasaan istiqomah melekat padanya dan berjalan sepanjang hidupnya, dan selalu merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dalam hal yang tampak (dhahir) dan yang tersembunyi (batin), dan dalam niat dan sedekah, dalam tujuan dan perilaku, serta dalam agama dan dunia.

Sebagaimana kebiasaan istiqomah ini memiliki pengaruh positif pada kehidupan manusia, jika kebiasaan ini diterapkan pada setiap komunitas, maka akan menyebar rasa aman, kenyamanan, dan termasuk dalam masyarakat yang penuh kasih sayang, cinta kasih terhadap sesama, solidaritas, toleransi, dan integrasi, serta menjauhkan diri dari unsur-unsur yang merusak, memecah belah hubungan sosial, dan moral yang tercela. 36 Sampaikan kebaikan dan larang kemunafikan.

Pengaruh yang paling penting, atau buah yang paling matang dari pendidikan jiwa, adalah prinsip "menata kebaikan dan kontradiksi keburukan" yang memberikan pengaruh terbesar dalam pendidikan seorang mukmin, dalam menanamkan pemikiran dan melindunginya dari salah tafsir, kesalahan, dan kemaksiatan, sementara dalam kehidupan masyarakat ia melindunginya dari unsur-unsur yang merusak dan melemahkan martabat yang disebabkan oleh penyebaran kerusakan, keburukan, dan kejahatan yang terlihat atau tersembunyi. 37 seperti dalam agama dan dunia.

Sebagaimana kebiasaan istiqomah ini memiliki pengaruh positif pada kehidupan manusia, jika kebiasaan ini diterapkan pada setiap komunitas individu, maka akan menyebar rasa aman, kenyamanan, dan termasuk dalam masyarakat yang penuh kasih sayang, cinta kasih terhadap sesama, solidaritas, toleransi, dan integrasi, serta menjauhkan diri dari unsur-unsur yang merusak, memecah belah hubungan sosial, dan moral yang tercela. 36 Katakanlah kebaikan dan laranglah kemunafikan.

Pengaruh yang paling penting, atau buah yang paling matang dari pendidikan jiwa, adalah prinsip "menata kebaikan dan kontradiksi keburukan" yang memberikan pengaruh terbesar dalam pendidikan seorang mukmin, dalam menanamkan pemikiran dan menjaganya dari kekeliruan, kesalahan, dan kemaksiatan, sementara dalam kehidupan masyarakat ia menjaganya dari unsur-unsur yang menghancurkan dan merusak martabat yang disebabkan oleh penyebaran kerusakan, keburukan, dan kejahatan yang terlihat atau tersembunyi. 37

Dengan upaya membiasakan anak-anak dengan prinsip amar ma'rif nahi mungkar, upaya menyebarkan nilai-nilai moral dalam kehidupan berdasarkan kesucian, kebersihan, dan menjelaskan petunjuk, semua itu menjadi penjaga terhadap penentangan, perpecahan, penyimpangan, dan perlindungan dari segala kerusakan, kerugian, dan kesalahan.

Hati juga merupakan unsur terpenting dalam memengaruhi perilaku manusia. Dengan hati ini manusia mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Hati bagaikan obor bagi manusia, jika manusia mampu menggunakan mata hatinya. Hati adalah tempat roh, yang pertama kali dipasang oleh Allah untuk mengawasi tindakan manusia. Menurut Amir al-Mu'minin Ali, qalb memiliki arti yang sama dengan Shadr, Fu'ad, Lubb, dan Syagaf. Shadr adalah tempat di mana nur (cahaya) dipancarkan, Fu'ad adalah tempat di mana ma'rifah dipancarkan kepada Allah, Lubb adalah tempat di mana monoteisme dipancarkan, dan Syagaf adalah tempat di mana kasih sayang manusia satu sama lain dipancarkan.

Dalam bahasa Arab, hati disebut qalb, yang berasal dari kata kerja qalaba dan qallaba yang berarti berputar, berubah, atau bergerak, bentuk jamaknya adalah qulub. Dalam terminologi Sufi, hati adalah hati spiritual, karena hati merupakan perwujudan dari berbagai aspek Allah, yang menggambarkan aspek yang berkaitan dengan Allah dan makhluk. Ia menerima karunia dari Allah dan menyampaikannya kepada makhluk.

Hadits Nabi mengatakan bahwa "Jika sepotong daging itu baik, maka akan baik untuk seluruh tubuh, dan jika sepotong daging itu tidak baik, maka akan menjadi tubuh yang buruk juga, ingatlah bahwa itu adalah hati manusia." Menurut Ibn Kathir, ada empat bentuk hati manusia, yaitu; pertama, hati yang bersih seperti lampu yang terang, yaitu hati seorang mukmin yang ingin menggunakan mata hatinya untuk penerangan hidupnya. Kedua, hati yang tertutup dan terikat pada penutupnya adalah hati seorang kafir yang tidak mau menerima kebenaran. Ketiga, hati yang terbalik, yaitu hati orang munafik, dan keempat, hati yang berlapis-lapis, hati yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan.

Dilihat dari makna ini, hati adalah tempat yang berada dalam kondisi menentukan dalam tindakan manusia. Oleh karena itu, hati perlu dididik untuk menginspirasi spiritualitas. Pendidikan spiritual dimaksudkan agar jiwa manusia yang ada di dalam hati selalu berhubungan dengan Allah setiap saat, baik dalam pikiran, perasaan, dan perbuatan.

Metode yang perlu dilakukan adalah dengan melatih kepekaan moral spiritual yaitu dengan sedekah lisan, zikir, shalat, istigfar, taubat, berpikir positif, selalu belajar dari kesalahan, dan mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialami. Menurut Sayyid Qutuhb ada lima cara untuk meningkatkan spiritualitas dalam hati, yaitu: pertama, meningkatkan kepekaan hati di bawah jangkauan Allah yang dapat menciptakan segala sesuatu di lembaran alam ini. Hal ini dilakukan agar manusia selalu merasakan bahwa Allah Maha Tak Terbatas. Kedua, meningkatkan kepekaan hati terhadap kepemilikan Allah yang terus-menerus, atau dengan kata lain Allah selalu mengawasinya di mana pun ia berada dan kita tidak dapat lepas dari-Nya. Ketiga, ia mengingat perasaan ketakwaan kepada Allah yang selalu ada di dalam hatinya. Keempat, merasakan cinta kepada Allah untuk mencari keridhaan-Nya. Kelima, mengorbankan perasaan damai dengan Allah baik dalam kesulitan maupun dalam keadaan apa pun. Tujuannya adalah kontak batin antara dirinya dan Allah Yang Maha Kuasa.

Salah satu ciri manusia adalah memiliki akal. Allah memberi akal kepada manusia untuk berpikir baik secara formal, empiris, maupun abstrak. Kata 'akal' berasal dari bahasa Arab yang dibentuk dari kata kerja 'aqala' yang memiliki makna mengikat dan menahan. Dengan demikian, akal berfungsi untuk mengikat dan menahan berbagai pengalaman manusia baik yang dilihat maupun yang dirasakan kemudian dicampur untuk menghasilkan kesimpulan untuk bertindak. Menurut Ibrahim Madkur, akal manusia memiliki potensi spiritual yang dapat membedakan antara yang benar dan yang sia-sia. Oleh karena itu, seseorang yang cerdas adalah seseorang yang mampu menahan nafsunya sehingga nafsunya tidak dapat menguasai dirinya dan ia mampu memahami kebenaran, karena orang yang dikendalikan oleh nafsunya adalah orang yang terhalang untuk memahami kebenaran. Tujuan pemberian akal budi kepada manusia adalah untuk memahami kebenaran yang dihasilkan dari pengalaman empiris atau indrawi serta pengalaman abstrak. Oleh karena itu, dalam bahasa asrama yang dikenal sebagai "sudah akil baligh" berarti Muslim yang telah mampu membedakan baik dan buruk, benar dan salah, pahala dan dosa, maka orang tersebut telah tunduk pada hukum, dengan mengingat ia telah mampu menggunakan akal budinya dalam kehidupan dewasanya.

Menurut Sa'id Hawwa, akal budi terbagi menjadi dua yaitu akal taklifi dan akal syar'i. Akal taklifi adalah akal budi terendah yang dimiliki oleh seorang mukmin (bertanggung jawab atas tindakannya di kemudian hari di hadapan Allah). Sedangkan akal syar'i (akal budi sempurna) adalah pengendalian nafsu manusia atas perintah Allah.

Kemampuan intelektual setiap orang tidak sama, ada yang lebih dan ada yang kurang. Dalam hal ini, ia membagi pikirannya menjadi tiga kelompok, yaitu; pertama orang-orang yang memiliki pikiran sehat, cerdas, dan jujur dalam berpikir (al-rasikh fi al-ilm) atau sering disebut Kiai (ulama). Karena alasan itulah metode yang diterapkan dalam meningkatkan spiritualitas pikirannya adalah dengan mengajak jalan Allah dengan hikmah. Yaitu dengan mengungkapkan alasan yang kuat dan meyakinkan sehingga mereka mengetahui hakikat kebenaran. Alasan seperti itu biasanya selalu mencari esensi kebenaran yang didasarkan pada berbagai pendekatan yang dirumuskan untuk memahami agama dan alam semesta dari bentuk citra ilahi.

Kedua adalah kelompok yang pikirannya belum tertata rapi, yaitu orang awam biasa. Untuk ini mereka membutuhkan bimbingan, dan nasihat yang mudah dipahami, atau dengan kata lain dengan contoh (uswah). Sedangkan untuk yang ketiga adalah alasan para pemikir (filsuf), kelompok ini hanya berdasarkan kemampuan rasional semata untuk memahami kebenaran. Mereka akan menolak sesuatu yang tidak rasional menurut pandangan mereka. Bagi kelompok ini, metode yang digunakan adalah agar mereka memiliki spiritualitas dalam pemikiran mereka dengan menggunakan pola debat yang abstrak atau postmodern.

4.2 Pentingnya Pendidikan Spiritual
Pendidikan spiritual adalah pembersihan jiwa atau perjalanan menuju Allah. Menurut Said 1-lawwa, inti dari pendidikan spiritual adalah perpindahan dari jiwa yang kotor ke jiwa yang bersih, dari pikiran yang belum tunduk pada syariat, ke pikiran yang taat pada syariat, dari hati yang sakit dan keras ke hati yang tenang dan makmur, dari jiwa yang jauh dari "pintu" Allah, yang lalai dalam beribadah dan tidak serius dalam melakukannya, menuju jiwa yang ma'rifah kepada-Nya, selalu melaksanakan hak-hak ibadah kepada-Nya; dari tubuh yang tidak taat pada aturan syariat ke tubuh fisik yang selalu memegang teguh aturan syariat-Nya, baik ucapan, perbuatan, maupun keadaan.

Menurut Ali Abd Al-Halim Mahmud, pendidikan spiritual adalah upaya untuk menginternalisasi kecintaan kepada Allah yang membuat seseorang hanya mengharapkan ridha-Nya dalam setiap ucapan, perbuatan, kepribadian, dan menjauhi segala sesuatu yang dibencinya. Oleh karena itu, pendidikan spiritual memiliki hubungan yang sangat erat dengan disiplin Sufisme. 

Menurut Ma'ruf Zariq dan Ali Abd Al-I-Lalim, Sufisme adalah ilmu yang mengetahui cara membersihkan jiwa (tazkiyah alnafs), membersihkan akhlak (tasfiyah alakhlak), dan membangun kemakmuran dan kebahagiaan abadi baik secara fisik maupun mental. Sufisme adalah sarana untuk mengenali subjek jiwa manusia, apakah itu baik atau buruk. Jika masih buruk, maka ia harus berusaha memperbaikinya, menghiasinya dengan kualitas yang dirasakannya, dan bagaimana mencapai hadirat ilahi. Penjelasan di atas, tidak hanya menjelaskan garis besar antara pendidikan spiritual dan Sufisme, tetapi kedua disiplin ilmu ini membahas dan mendidik objek yang sama.

Pendidikan Islam adalah studi tentang pendidikan yang memiliki peran penting untuk dipelajari oleh setiap Muslim, yang menginginkan agar pendidikan dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan. Pentingnya mempelajari pendidikan Islam meliputi:
1. Pendidikan Islam sebagai upaya membentuk manusia harus melalui proses yang panjang dengan hasil yang tidak dapat diketahui secara langsung, berbeda dengan membentuk benda mati yang dapat dilakukan sesuai dengan keinginan pembuatnya.
2. Pendidikan Islam, khususnya, yang bersumber dari nilai-nilai agama Islam, selain menanamkan dan membentuk sikap hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai tersebut, juga mengembangkan kemampuan untuk mempelajari ilmu yang sejalan dengan nilai-nilai Islam yang mendasarinya, serta mendidik ke arah kedewasaan yang bermanfaat baginya.
3. Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan oleh Allah dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat, hanya dapat memiliki makna fungsional dan aktual pada manusia jika dikembangkan dalam proses pendidikan yang sistematis.

3. Biografi Muhammad Quraish Shihab
Quraish Shihab lahir pada 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan. Sosoknya tegap dengan postur tubuh tegak dan karismatik, tinggi 172 cm, berat badan proporsional, tutur kata khas, rambut hitam tersisir rapi, wajah oval, berkacamata, dan kulit cerah. Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang berpendidikan tinggi. Ayahnya, KH. Abdurrahman Shihab, dikenal sebagai salah satu tokoh pendidik yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kontribusinya di bidang pendidikan terlihat dari upayanya mengembangkan dua universitas, yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI), institusi pendidikan tinggi swasta terbesar di bagian timur Indonesia, dan IAIN Alauddin, dan ia juga tercatat sebagai rektor di kedua universitas tersebut: UMI 1959-1965 dan 1972-1977. Secara informal, ia sering berdakwah dan menyampaikan ceramah spiritual di masjid-masjid.

Selain berdakwah secara lisan, beliau juga tidak ragu untuk berdakwah secara lisan atau bahkan secara amal. Oleh karena itu, beliau sangat mendorong kemajuan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Selain menyumbangkan buku-buku Islam, beliau juga gemar membantu lembaga-lembaga pendidikan Islam di sana secara finansial.

Sebagai pribadi yang berpikiran terbuka, Abdurrahman percaya bahwa pendidikan adalah agen perubahan. Sikap dan pandangan yang maju tersebut dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya, yaitu Jami'at al-Khair, lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Siswa yang belajar di lembaga ini diajarkan tentang gagasan-gagasan pembaharuan gerakan Islam dan pemikiran. Hal ini terjadi karena lembaga ini memiliki hubungan yang erat dengan sumber-sumber pembaharuan di Timur Tengah seperti Hadramaut, Haram, dan Mesir. Banyak guru yang didatangkan ke lembaga ini termasuk Syekh Ahmad Sorkati yang berasal dari Sudan, Afrika.

Sebagai putra seorang profesor, M.Quraish shihab menerima motivasi awal dan benih kecintaan pada bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering mengajak anak-anaknya untuk duduk bersama. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah memberikan nasihatnya yang sebagian besar berupa ayat-ayat Al-Qur'an. Si kecil Quraisy Shihab telah berjuang dan mencintai Al-Qur'an sejak usia 6-7 tahun. Ia harus mengikuti pelajaran Al-Qur'an yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. Selain menyuruhnya membaca Al-Qur'an, ayahnya juga secara singkat menjelaskan kisah-kisah dalam Al-Qur'an. Di sinilah benih kecintaannya pada Al-Qur'an mulai tumbuh.

Quraish Shihab memperoleh banyak dasar intelektualnya dari lingkungan keluarga, dalam hal ini pengaruh kuat dari ayahnya. Sebagaimana dinyatakan: "Ayah kami, almarhum Abdurrahman Shihab (1905-1986) adalah seorang profesor di bidang tafsir. Selain sebagai seorang pengusaha, sejak muda beliau juga berdakwah dan mengajar. Selalu menyisihkan waktu, pagi dan sore, untuk membaca Al-Qur'an dan tafsirnya. Seringkali beliau mengajak anak-anaknya untuk duduk bersama. Pada saat-saat seperti itulah beliau memberikan nasihat agama. Banyak kiat yang kemudian saya ketahui sebagai ayat-ayat Al-Qur'an atau nasihat para nabi, sahabat, atau ahli Al-Qur'an, yang hingga kini masih terngiang di telinga saya."

Pengaruh pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak hanya diperoleh dari ayahnya, tetapi juga dari ibunya. Dalam riwayat Shihab Quraisy sendiri, ibunya, Asma Aburisah (1912-1984), selalu mendorong dirinya dan saudara-saudaranya untuk belajar dengan tekun dan tidak ragu serta bosan mengingatkan mereka untuk mempraktikkan ajaran agama, baik ketika mereka masih kecil maupun dewasa, bahkan ketika sudah menjadi dokter. Selain itu, kesuksesan dan antusiasmenya tidak terlepas dari dukungan kerabat, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. 51

Pendidikan formalnya dimulai dari sekolah dasar. Setelah itu, ia melanjutkan ke sekolah menengah pertama di Malang sambil menjadi siswa di sebuah asrama Islam Dar al-hadith alfaqihiyyah di kota yang sama. Di asrama ini pula, ia menemukan guru dan mursyid yang dianggapnya sebagai orang yang paling berpengaruh selain ayah dan ibunya. Hal ini diungkapkannya ketika ditanya siapa gurunya, dan jawabannya adalah "sangat banyak". Namun, ada dua tokoh yang tak bisa lepas dari ingatannya. Hal ini diungkapkan dalam salah satu bukunya, ia mengatakan untuk memperdalam studi Islamnya, pada usia 14 tahun, syahadat Quraisy ini dikirim oleh ayahnya ke al-Azhar, Kairo, pada tahun 1958 dan diterima di kelas dua Tsanawiyah. Setelah itu, ia melanjutkan studinya di Universitas al-Azhar di fakultas ushuludin, mengambil jurusan tafsir dan hadits dan lulus pada tahun 1967 dengan meraih gelar Lc (Sarjana). Kemudian ia melanjutkan studinya di jurusan dan universitas yang sama dan meraih gelar M.A. pada tahun 1969 dengan mempertahankan tesis yang mengkhususkan diri dalam "I'jaz alQuran" berjudul "al-I'jaz al-Tashri'i al-Quran al-karim (mukjizat Al-Quran dari sudut pandang hukum)".

Pada tahun 1973, Quraish Shihab tidak langsung melanjutkan studinya ke program doktoral, tetapi ia lebih memilih untuk kembali ke Makassar, selain itu ia memang dipanggil pulang oleh ayahnya yang saat itu menjabat sebagai rektor, untuk membantu mengelola pendidikan di IAIN Alauddin. Selama masa jabatannya, ia menjabat sebagai wakil rektor bidang akademik dan kemahasiswaan dari tahun 1974 hingga 1980. Selain menduduki posisi resmi tersebut, ia juga sering mewakili ayahnya yang sudah lanjut usia dalam melaksanakan beberapa tugas dasar. Setelah itu, Quraish Shihab diberi berbagai posisi, seperti koordinator lembaga pendidikan tinggi swasta VII di Indonesia Timur pada tahun 1967-1980, asisten kepala... Koordinator antara kepolisian Indonesia bagian timur di bidang pengembangan mental pada tahun 1973-1975, dan serangkaian posisi lain di luar kampus. Ia masih sempat menyelesaikan beberapa tugas penelitian, termasuk penerapan kerukunan beragama di Indonesia (1975) dan masalah wakaf di Sulawesi Selatan (1978). 53

Dalam kurun waktu sekitar sebelas tahun antara 1969-1980, ia terjun ke berbagai kegiatan sambil memperoleh pengalaman empiris, baik dalam kegiatan akademik maupun di berbagai lembaga pemerintahan daerah, dan untuk mewujudkan cita-citanya ia mendalami studi interpretatif. Maka pada tahun 1980, syahadat Quraysh kembali belajar di al-Azhar, dengan spesialisasi dalam studi tafsir Al-Qur'an. Dengan pengalaman sebelas tahunnya, ia tidak perlu menyelesaikan program doktoralnya dalam waktu lama. Hanya butuh dua tahun untuk memperoleh gelar doktor di bidang ini tepatnya pada tahun 1982. Disertasinya berjudul "Nazm alDurar li al-Biqa'i Tahqiq wa Dlrasah (sebuah studi tentang Nazm al-Durar (seri mutiara) karya Al-Biqa'i) berhasil dipertahankan dengan gelar summa cum laude dan dianugerahi gelar mumtaz ma'a serta gelar al-Sharaf al-Ula (cendekiawan teladan dengan prestasi khusus).

Melihat latar belakang pendidikannya di atas, secara keseluruhan para cendekiawan Quraisy telah mengalami perkembangan intelektual di bawah bimbingan dan arahan Universitas Al-Azhar dari Tsanawiyah, aliyah, gelar sarjana, gelar magister, hingga gelar doktor. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan bahwa iklim dan tradisi ilmiah dalam studi Islam di lingkungan Universitas Al-Azhar memiliki pengaruh besar pada kecenderungan intelektual dan pola pemikiran keagamaan. Mesir dengan universitas-universitas Al-Azhar seperti Jansen mengekspresikan dirinya sebagai lembaga Islam yang paling ortodoks. Selain menjadi pusat gerakan reformasi Islam, Mesir juga merupakan tempat yang tepat untuk mempelajari Al-Qur'an. Sejumlah tokoh populer seperti Muhammad Abduh dan Rashid Ridha adalah penafsir yang terkenal. Mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi mereka di Mesir bahkan menjadi saingan Haramayn dalam studi Islam.54

Pendidikan tinggi Quraisy Shihab, sebagian besar di Timur Tengah, Al-Azhar, Kairo oleh Howard M. Federspiel dianggap unik bagi Indonesia pada saat sebagian besar pendidikan pada tingkat tersebut diselesaikan di Barat. Mengenai hal ini, ia berkata, "Saat meneliti biografinya, saya menemukan bahwa ia berasal dari Sulawesi Selatan, dididik di sebuah Sekolah Berasrama Islam, dan menerima pendidikan tingginya di Mesir di Universitas Al-Azhar, tempat ia menerima gelar M.A dan Ph.D. Hal ini membuatnya lebih berpendidikan dibandingkan hampir semua penulis lain yang terdapat dalam Sastra Populer Indonesia tentang Al-Qur'an dan, terlebih lagi, tingkat pendidikannya yang tinggi di Timur Tengah menjadikannya unik bagi Indonesia pada saat itu di mana sebagian besar pendidikan pada tingkat tersebut diselesaikan di Barat. Ia juga memiliki karir mengajar yang penting di IAIN, Jakarta dan sekarang, ia menjabat sebagai rektor di IAIN Jakarta. Ini adalah karir yang sangat menjanjikan."

Tahun 1984 merupakan fase kedua dari fase baru bagi Quraish Shihab untuk melanjutkan kariernya. Pada putaran itu, ia memulai dengan transfer status tugas dari IAIN Ujung Pandang ke Fakultas Usuludin di IAIN Jakarta. Di sana, ia aktif mengajar bidang tafsir dan ulum al-Qur'an di program sarjana, magister, dan doktoral hingga tahun 1988. Selain menjalankan tugas utamanya sebagai dosen, ia juga dipercaya untuk memegang jabatan Rektor IAIN Jakarta selama dua periode (1992-1996 dan 1997-1998), dan anggota dewan syariah Bank Muamalat Indonesia (1992-1999). Setelah itu, beliau dipercaya untuk memegang jabatan Menteri Agama selama kurang lebih dua bulan pada awal tahun 1988, setelah terpilih kembali dan mengundurkan diri dari Presiden Soeharto. Pada tahun 1995-1999, beliau terpilih sebagai anggota dewan penelitian nasional, dari tahun 1998 hingga sekarang diangkat sebagai anggota Dewan Kementerian Studi Islam dan Al-Qur'an Indonesia, hingga kemudian diangkat sebagai duta besar luar biasa dan berwenang penuh Republik Indonesia untuk Republik Arab Mesir dan Republik Djibouti serta Somalia, yang berkedudukan di Kairo selama pemerintahan Presiden Baharudin Yusuf Habibi. Di sinilah beliau mencurahkan sebagian besar karya monumentalnya sebagai ahli terkemuka dalam penafsiran Al-Qur'an kontemporer Indonesia, yang ditulis di Kairo pada hari Jumat, 18 Juni 1999 M / Rabi alawwal 1420 H, dan diselesaikan secara keseluruhan pada pagi hari di Jakarta, Jumat, 8 Rajab 1423 H. Bertepatan dengan tanggal 5 September 2003, upaya telah diselesaikan untuk memberikan tafsir Al-Qur'an al-Karim kepada para pembaca.

Kehadiran komunitas Quraisy di ibu kota Jakarta telah memberikan suasana baru dan disambut hangat oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di tengah masyarakat. Selain mengajar, komunitas ini juga memiliki dan dipercaya untuk memegang sejumlah posisi di luar kampus. Di antaranya sebagai anggota MPR RI (1982-1987, 1987-2002), kepala pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) (sejak 1985-1998), anggota pertimbangan pendidikan nasional 1988-1996, anggota akreditasi nasional 1994-1998, direktur kader ulama MUI 1994-1997. Beliau juga terlibat dalam sejumlah organisasi profesional termasuk sebagai asisten ketua Asosiasi Ulama Muslim Indonesia (ICMI), ketika organisasi tersebut didirikan. Kemudian beliau juga terdaftar sebagai administrator asosiasi ilmu syariah, dan dewan konsorsium departemen ilmu agama pendidikan dan kebudayaan. Kegiatan lain yang dilakukannya adalah sebagai dewan redaksi studi Islam: Jurnal Studi Islam Indonesia, Qur'an Ulumul, Mimbar Ulama, dan jurnal refleksi studi agama dan filsafat. Semua publikasi tersebut berada di Jakarta. Sebagai tokoh ilmiah terkemuka, beliau adalah pendiri dan juga direktur Pusat Studi Al-Quran (PSQ) yang berlokasi di Jl. Pisangan, Ciputar Tangerang.

Selain kegiatan pengalaman profesional di atas, Quraish Shihab juga dikenal sebagai penulis dan pembicara yang handal. Berbekal latar belakang ilmiah yang kokoh yang diperolehnya melalui pendidikan formal dan didukung oleh kemampuannya untuk mengungkapkan pendapat dan gagasan secara sederhana, namun lugas, rasional, dan moderat, ia tampil sebagai seorang penceramah dan penulis yang diterima oleh semua lapisan masyarakat. Quraisy Shihab memang bukan satu-satunya ahli Al-Qur'an di Indonesia, tetapi kemampuannya menerjemahkan dan menyampaikan pesan-pesan Al-Qur'an dalam konteks masa kini dan modern membuatnya lebih dikenal dan unggul dibandingkan ahli Al-Qur'an lainnya.

Quraisy Shihab adalah seorang ahli bahasa yang juga seorang pendidik. Keahliannya di bidang penafsiran harus diabadikan dalam bidang pendidikan. Posisinya sebagai asisten rektor, rektor, menteri agama, ketua MUI, staf ahli menteri pendidikan, anggota pertimbangan pendidikan, penulis makalah ilmiah, dan pembicara sangat erat kaitannya dengan kegiatan pendidikan. Dengan kata lain, beliau adalah seorang cendekiawan yang menggunakan keahliannya untuk mendidik masyarakat. Beliau juga melakukan hal ini melalui sikap dan kepribadiannya yang penuh dengan sikap dan karakteristik yang patut dicontoh. Penampilannya yang sederhana, tawadu', penyayang kepada semua orang, jujur, berbudi luhur, dan teguh dalam prinsip adalah bagian dari sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru.

4. Konsep Pendidikan Spiritual Menurut Muhammad Quraisy Shihab dalam Surah Ibrahim Ayat 35-41
4.1 Pendahuluan Surah Ibrahim
Surah Ibrahim adalah surah ke-14 yang termasuk dalam kelompok surah Makkiyah karena diturunkan di Mekah dan sebelum hijrah serta terdiri dari 52 ayat. Surah Ibrahim terdiri dari 52 ayat dan merupakan surah ke-14 dalam urutan penulisannya dalam manuskrip Al-Quran, sedangkan dalam urutan menurun, surah ini adalah surah ke-70 yang diturunkan setelah surah As-Syura dan sebelum surah Al-Anbiya.

Surah Ibrahim terdiri dari 52 ayat.

Mayoritas ulama menganggap ayat-ayat surah ini secara keseluruhan diturunkan sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Sebagian kecil ulama mengecualikan ayat 28 dan 29. Beberapa juga menambahkan ayat 30 karena mereka menganggapnya membahas peristiwa Perang Badar yang terjadi setelah Nabi. Berhijrah ke Madinah pada tahun ke-2 Hijriah.

Banyak surah yang dimulai dengan huruf Alif Lam Ra, untuk membedakannya, nama-nama surah ini dinamai berdasarkan nabi-nabi tertentu yang kisahnya disebutkan atau tempat mereka diutus, seperti surah Al-Hijriah. Surah ini dinamakan Surah Ibrahim karena menceritakan kisah Nabi Ibrahim, meskipun uraian tentang 111m ditemukan di beberapa surah lain.

Ibrahim yang dimaksud adalah Nabi Ibrahim, yang menurut beberapa ahli diduga lahir pada tahun 2893 sebelum hijrah, dan wafat pada tahun 2818 sebelum hijrah. Makamnya berada di kota Al-Khalil, Palestina. Menurut Al-Qur'an dan terjemahannya oleh Departemen Agama Indonesia, Surah Ibrahim terdiri dari 52 ayat, termasuk kelompok surah Makkahyah karena diturunkan di Mekah sebelum hijrah. Disebut surah "IBRAHIM", karena surah ini berisi doa Nabi Ibrahim AS, yaitu pada ayat 35 sampai 41. Doa ini meliputi: permohonan agar keturunan Nabi Ibrahim mendirikan salat, menjauhi penyembahan berhala dan agar Mekah dan sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur. Doa Nabi Ibrahim AS ini telah diizinkan oleh Allah SWT, dan telah terbukti aman sejak zaman dahulu hingga sekarang. Doa ini dipanjatkan oleh beliau di hadapan Allah setelah menyelesaikan pembangunan Ka'bah bersama putranya Ismail AS, di daerah tanah tandus di Mekah.

Poin-poin utama:
1. Iman
Al-Qur'an adalah petunjuk bagi umat manusia menuju jalan Allah, segala sesuatu di dunia ini milik Allah; pengingkaran manusia terhadap Allah tidak mengurangi kesempurnaan-Nya; Allah adalah kekuatan maha kuasa yang dapat membunuh manusia dan membangkitkannya kembali dalam bentuk baru; pengetahuan Allah meliputi kelahiran dan batin.

2. Hukum
Perintah untuk mendirikan salat dan membelanjakan sebagian harta, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

3. Kisah-kisah
Kisah Nabi Musa AS bersama kaumnya dan kisah para rasul terdahulu.

4. Dan lainnya
Karena para rasul diutus dalam bahasa kaum mereka sendiri; perumpamaan tentang perbuatan dan ucapan yang benar; peristiwa langit dan bumi mengandung hikmah; berbagai macam nikmat Allah kepada manusia dan janji-janji Allah kepada hamba-hamba yang bersyukur kepada-Nya.

4.2 Interpretasi Kata-kata
Dalam Al-Qur'an, Ibrahim, ayat 35-41 merujuk pada Tafsir al-Misbah, beberapa kosakata penting yang membutuhkan penjelasan maknanya, yaitu sebagai berikut: menyembah berhala, mengikuti aku, hati, kita bersembunyi, kita dilahirkan.

Menurut pandangan Sufi, manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Ia cenderung ingin menguasai dunia atau mencoba menguasai dunia. Menurut Al-Gazali, cara hidup ini akan membawa manusia ke ambang kehancuran moral. Kenikmatan hidup di dunia telah menjadi tujuan manusia pada umumnya. Pandangan hidup ini menyebabkan manusia melupakan penampilan mereka sebagai hamba Allah yang harus berjalan di atas aturan-aturan-Nya.

Untuk memperbaiki keadaan mental yang buruk, seseorang yang ingin memasuki kehidupan Sufisme harus melalui beberapa tahapan yang cukup berat. Tujuannya adalah untuk menguasai hawa nafsu, menekan hawa nafsu hingga titik terendah dan jika memungkinkan mematikan hawa nafsu sepenuhnya. Tahapan tersebut terdiri dari tiga tingkatan, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli.

Menurut pandangan Sufi, untuk memperbaiki sikap mental yang buruk diperlukan terapi yang tidak hanya bersifat lahiriah. Oleh karena itu, pada tahap awal memasuki kehidupan Sufisme, seseorang diharuskan melakukan latihan dan pelatihan spiritual yang cukup berat, tujuannya adalah untuk mengatasi nafsu, menekan keinginan hingga titik terendah dan—jika memungkinkan—mematikan nafsu sama sekali. Oleh karena itu, dalam Sufisme, moralitas memiliki tahapan sistem bimbingan moral yang disusun sebagai berikut: Takhalli.

Takhali adalah langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang Sufi. Takhalli adalah upaya untuk mengosongkan diri dari perilaku dan moral yang tercela. Salah satu moral yang paling tercela yang menyebabkan moral buruk adalah kecintaan yang berlebihan terhadap urusan duniawi. Takhalli juga dapat diartikan sebagai mengosongkan diri dari sifat ketergantungan pada kenikmatan duniawi. Ini dapat dicapai dengan menjauhkan diri dari ketidaktaatan dalam segala bentuknya dan mencoba untuk menghilangkan dorongan nafsu jahat.

Takhali, berarti mengosongkan diri dari sikap ketergantungan pada kenikmatan kehidupan duniawi. Dalam hal ini, manusia tidak diminta untuk sepenuhnya menghindari masalah dunia dan tidak harus menghilangkan nafsu. Tetapi, tetap memanfaatkan dunia kesehatan serta kebutuhan mereka dengan menekan dorongan yang dapat mengganggu akal dan perasaan. Ia tidak menyerah pada setiap keinginan, tidak memanjakan nafsu, tetapi juga tidak mematikannya. Ia menempatkan segala sesuatu sesuai dengan proporsinya, agar tidak mengejar dunia dan tidak terlalu membenci dunia.

Jika hati telah terjangkit penyakit atau sifat-sifat yang tercela, maka harus diobati. Obatnya adalah dengan terlebih dahulu membersihkannya, yaitu melepaskan diri dari sifat-sifat tercela untuk mengisinya dengan sifat-sifat terpuji guna memperoleh kebahagiaan tertinggi.

Tahalli
Setelah melewati tahap pembersihan diri dari semua sifat dan sikap mental yang tidak baik, upaya harus dilanjutkan ke tahap kedua yang disebut tahalli. Yaitu, mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan menjadi taat dan introspektif.

Demikianlah, thalli ini adalah kolam pengisi jiwa yang telah dikosongkan sebelumnya. Karena, tunggakan satu tegukan telah dilepaskan tetapi tidak mendapat pengganti, maka kekosongan itu dapat menyebabkan frustrasi. Oleh karena itu, setiap kebiasaan lama berlalu, harus segera diisi dengan satu kebiasaan baik yang baru. Dari satu latihan akan menjadi kebiasaan dan dari kebiasaan akan menghasilkan kepribadian. Jiwa manusia, kata Al-Gazali, dapat dilatih, dapat dikendalikan, dapat diubah dan dapat dibentuk sesuai dengan kehendak manusia itu sendiri.

Sikap mental dan amal mulia yang sangat penting untuk diisi dalam jiwa seseorang dan dibiasakan dalam hidupnya adalah taubat, kesabaran, ketidaksetiaan, zuhud, tawakkal, cinta, ma'rifah, dan kemauan. Jika manusia mampu mengisi hatinya dengan sifat-sifat terpuji, maka ia akan cemerlang.

Manusia mampu mengosongkan hati mereka dari sifat-sifat tercela (takhalli) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji (tahalli), semua tindakan sehari-hari mereka selalu didasarkan pada niat yang tulus. Seluruh hidup dan pergerakan hidup diberikan untuk mencari ridha Allah semata. Itulah sebabnya manusia seperti ini dapat lebih dekat kepada-Nya.

Tahalli adalah upaya untuk mengisi dan memperindah diri dengan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak. Tahapan tahalli dilakukan oleh para Sufi setelah mengosongkan jiwa dari akhlak yang tercela. Dengan melaksanakan ketentuan-ketentuan agama baik lahiriah maupun batiniah. Yang disebut aspek lahiriah adalah kewajiban formal seperti salat, puasa, haji, dan lain-lain. Sedangkan yang bersifat alamiah adalah iman, ketaatan, dan cinta kepada Allah. Artinya, menyingkirkan sifat-sifat tercela, kemaksiatan, dan mentalitas yang buruk. Di antara sifat-sifat tercela menurut Imam al-Ghazali adalah amarah, dendam, hasad, kikir, kenakalan, takabbur, dan lain-lain.

Sifat-sifat yang menerangi hati atau jiwa, setelah seseorang membersihkan hatinya, juga harus disertai dengan penerangan hati sehingga hati yang kotor dan gelap menjadi bersih dan terang. Karena hati seperti itu dapat menerima pancaran cahaya Allah.69

Ketika manusia telah membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, maka hatinya menjadi semakin terang dan hati itu dapat menerima cahaya dari sifat-sifat terpuji tersebut. Hati yang belum dibersihkan tidak dapat menerima cahaya dari sifat-sifat terpuji tersebut.

Untuk penguatan dan pendalaman materi yang telah disampaikan pada fase tahalli, rangkaian pendidikan moral selanjutnya adalah fase Tajalli. Kata tajalli berarti pengungkapan nur supranatural. Sehingga hasil yang diperoleh oleh jiwa dan organ tubuh yang telah dipenuhi dengan mutiara moral dan terbiasa melakukan perbuatan mulia - tidak berkurang, maka, rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. 1--Latihan yang dilakukan dengan kesadaran optimal dan rasa cinta yang mendalam secara alami akan menumbuhkan kerinduan akan Allah. Sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya untuk mengisi hati yang telah dikosongkan dengan isi lain, yaitu Allah.

Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepaskan yang lain, akan membawa kedamaian. Tidak ada yang perlu ditakutkan selain pelepasan Allah dari hatinya. Kehilangan dunia, bagi hati yang telah dikenal, tidak akan mengecewakan. Waktu hanya disibukkan untuk Allah, bersenandung dalam zikir. Pada saat tahalli, karena kesibukan mengingat dan berzikir kepada Allah di dalam hatinya, anggota tubuh lainnya bergerak sendiri untuk ikut bersenandung. Lidahnya basah oleh lafadz kebesaran Allah yang terus-menerus bergema sepanjang waktu. Tangannya melafalkan kebesaran Tuhannya dalam melakukan sesuatu. Demikian pula mata, kaki, dan bagian tubuh lainnya.71

Pada tahap ini, hati akan merasa tenang. Kecemasannya tidak lagi berada di dunia yang menipu. Kesedihannya bukan lagi karena anak-anak dan istri kita yang tidak akan bersama kita ketika kematian menjemput kita. Rasa sakitnya bukan nafsu jasmani yang seringkali mengarah pada kebinatangan. Tetapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika ia tidak mengingat Allah setiap detik.

Tajalli juga merupakan istilah dalam Sufisme yang berarti "penampakan Tuhan" yang absolut dalam bentuk alam yang terbatas.

Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang berarti "yang menyatakan diri".
Tajalli merupakan titik penting dalam pemikiran Ibnu Arabi. Bahkan, konsep tajalli adalah dasar dari pandangan Ibnu Arabi tentang realitas. Semua pemikiran Ibnu Arabi tentang struktur ontologi berputar di sekitar poros ini, dan dari sana berkembang menjadi sistem kosmik yang luas. Tidak ada bagian dalam pandangan Ibnu Arabi tentang realitas yang dapat dipahami tanpa merujuk pada konsep ini.  keseluruhan filosofi, singkatnya, adalah teori Tajalli.72

Penulis akan menjelaskan pendidikan spiritual yang terkandung dalam Surah Ibrahim ayat 35-41. Ayat 35 berarti: Dan ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman. Termasuk Tajalli karena merupakan implementasi dari permohonan doa Nabi Ibrahim agar negeri ini menjadi aman. Kalimat selanjutnya menunjukkan Tajalli yaitu menjauhkan diri dan anak-anaknya dari penyembahan berhala, artinya menjauhi kejahatan.

Ayat 36 berarti: Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala telah menyesatkan banyak orang, maka barangsiapa yang mengikuti aku, dalam kata-kata "maka sesungguhnya dia termasuk golonganku, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Perkasa" termasuk Tajalli di sana terdapat unsur-unsur kesembronoan karena mereka telah mengikuti perintah untuk menjauhi kejahatan dan menaati kebaikan.


Ayat 37 berarti: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak dapat ditumbuhi tanaman di dekat kediaman-Mu yang mulia, ya Tuhan kami! Itu agar mereka melaksanakan salat, dari firman "maka jadikanlah hati mereka condong kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur" termasuk Tahallidan Tajalli yang menunjukkan adanya unsur permintaan dan pelaksanaan rasa syukur. Ayat 38 berarti: dalam firman "Ya Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami berikan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah, baik di bumi maupun di langit" termasuk Tajalli karena tidak ada sesuatu pun yang dilakukan tanpa perintah Allah, artinya lebih bertakwa kepada Allah daripada kepada yang lain (berhala).

Ayat 39 berarti bahwa: dari ungkapan "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku pada zaman Ismail dan Ishaq termasuk Tahalli karena menunjukkan bahwa doanya dikabulkan untuk mendapatkan anak yang diinginkannya, sesungguhnya Tuhanku benar-benar mendengar doanya.

5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa: Rumusan pendidikan spiritual dalam pemikiran Muhammad Quraisy Shihab adalah terdapat nilai-nilai ibadah, akhlak, keyakinan, rasa syukur, kesabaran, dan ketulusan. Konsep pendidikan spiritual menurut Muhammad Quraisy Shihab dalam Surah Ibrahim ayat 35-41 mengandung tauhid materi, salat, lingkungan yang baik, rasa syukur (iman), ketulusan, ibadah, dan cinta kepada kedua orang tua. Relevansi pendidikan spiritual dalam konteks masa kini terhadap pencapaian pendidikan spiritual yaitu semua ritual dalam hubungan ibadah relevan dengan konteks masa kini sesuai dengan hukum Islam.


TULISAN ASLI

The Concept of Spiritual Education in Surah Ibrahim Verses 35-41 According to Muhammad Quraish Shihab 
Aulia Fitri Sidik, and Kamaruddin Kamaruddin
Islamic Education Department, Postgraduate, Institut Agama Islam Negeri Palu

ABSTRACT
This researcher examines the concept of spiritual education according to Muhammad Quraish Shihab in surah Ibrahim verses 35-41 and the relevance of spiritual education in the present context. This type of
research is a library research and data collection is done by the method of irfani (Sufism) and analysis approach. Data analysis was performed with inductive analysis techniques, which are drawing conclusions by departing from specific interpretations towards general conclusions. While interpretative is to look for the meaning behind the explicit and implied meaning. The results of the research show that the concept of spiritual education according to Muhammad Quraish shihab in surah Ibrahim verses 35-41 uses the irfani method (tasawuf science) and analysis approach so that it can be seen the meaning of the material and the values of spiritual education contained in surah Ibrahim verses 35-41 namely the value of faith, worship, patience, sincerity, gratitude, and morals. The relevance of spiritual education in the present context of diversity in Islam is the first meaning of the rituals of prayer, fasting, zakat, and pilgrimage. If the rapid development of technology and communication as human beings are required to commemorate each other, advise that they always do the right thing and stay away from the sin. So, current technological developments by looking at spiritual education in the face of social media which are viral can we avoid, but must be multichannel in overcoming the challenges of globalization.
Keywords: Spiritual Education, Surah Ibrahim, Verses 35-41, Quraish Shihab.

1. Introduction
Life can be likened to the light that illuminates the walls of a house, while the spirit is the light. The flow of the spirit and its movements inside the mind is like the movement of the lights in the corner of a house that moves when someone moves it. This spirit is an amazing thing that is rabbani that is not able to know its essence by most human reason.

Al-Nafs is understood as a term that includes the power or power of anger and desire (lust) in humans. In general, this understanding is used by Sufism experts, because they interpret al-nafs as the source of the despicable qualities In human beings. Spiritual education is oriented to the development of a healthy human soul marked by the presence of a peaceful soul integrity, meridhai and blessed soul (muthmainah, radhiyah, mardhtyah).  
Spiritual education is expected to provide the integration of values in body and soul which are the substance of the human person and cannot be separated so that humans are able to carry out their functions perfectly. Thus, it can be said that spiritual education has a central building on potential by synergizing the values of knowledge, emotions and religious practices of a person.
Spirituality taken from the word spirit (something that gives life or vitality to a system) refers to a kind of human need to place one's efforts within a clear framework of meaning and purpose. 3 Spirituality is an innate human potential that makes it connected to a greater power, so that humans feel there is a connection between themselves and the universe, which is applied in a number of values. Spirituality is umversal, transetnic, transgeographic, transpolitic, transeconomic and there are no boundaries between one human and another. Therefore if someone has these values of spirituality, he does not see others in a limited space.
Spirituality or religiosity is more directed to the aspects that are in the bottom of the heart, the vibrations of the conscience of the human person, personal attitudes that are difficult to guess or mysteries for others, and as a total taste of one's person. The expression of religiosity is seen from the attitude of religios such as standmg solemnly and bowing as an expression of devotion facing God and ready to listen to the divine words in the heart. 
Spiritual education can be interpreted as an effort to live in a world centered on the provisions  of Allah and always strive to live by taking part in the attributes of Allah Almighty and always work to bring goodness, safety and prosperity in the world. SAII educational processes that provide guidance and direction towards the realization of Islamic values in human life.
Spiritual education as a transmission of religious teachings from generation to generation because this involves not only cogmtive aspects (knowledge of religious teachings), but also the affective and psychomotor aspects (attitudes and practices of Islamic teachings) are also essential.
Ibn Kathir's view of surah sajdah verses 15-17 is a command and obligation to Allah to listen and obey every word and deed. They also always do sunnah prayers at night.
Spiritual education is known as a process of personality education that IS based on emotional and spiritual intelligence (ruhaniyah) which is based on self problems.  Balance usmg emotional and spiritual intelligence in the formation of personality will create perfect human beings, as well as being a people who have individual piety and social piety.
Hasan al-Bana said that spiritual education is tarbiyahruhiyah which aims to strengthen the ranks of ta'aruf. 7The purpose is to strengthen the soul and spirit, anticipate customs and traditions, contmue to mamtain good relations with Allah, and always ask for help from Allah. Without prejudice to its activities in life in the world, in other words, it always keeps the balance of the needs of the world and the hereafter.
Said Hawwa included heart education into the concept of Ruhiyah education, and according to him to educate the heart through several stages, as the stages developed in the process of traveling to Allah SWT.  
Spiritual education is based on experience carried out consciously to direct the spirit so that it continues to run in accordance with his nature that is believing in Allah and developing divine potential to the peak of faith in Allah, so that the spirit can also encourage physical activities or daily actions to always run according with Shari'a.
The term "spiritual" here simply refers to a person's rational belief in his selfidentity as a metaphysical self which is fimdamentally different from the body, including  the brain, matter and all the parts that make up the body. 9
According to Islam, spirituality refers to the process of wandering ruhaniyah through deep elaboration of shari'ah conformity which is the formal order of religion (exoteric) and Sufism of the esoteric dimension of Islam which bases itself on inner experience. 10 More specifically, functionally the relationship with God is the way, and spirituality is the light of the way. 11
God has bestowed humanity with the basic nature through the holy spirit, so that Islam requires fasting (controlling lust) to restore the idolatry (Eid al-Fitr) described by the Prophet to us like a newborn baby, born into the world of this earth by bringing a sacred spiritual basis and healthy according to the laws of heredity. Sin and the changes that occur to it are "accidental" that have nothing to do with their basic nature. It is an act of violence agamst nature or misorientation and deterioration of instincts that not only causes mental illness but also impedes the independence of his soul.

The ideal Islamic education is transcendent and integral, it does not separate physical and metaphysical realms, because the two are interdependent. Education must be able to train students' feelings so that in life attitudes, actions, decisions and approaches to all kinds of knowledge, they are strongly influenced by spiritual values.  

Muhammad Quraish Shihab was born on February 16 in Si Dendeng Rappang Regency, South Sulawesi, about 190 Km from Ujungpandang City.  He comes from an educated Arab descendant. Shihab is his family name (his father) as is commonly used in the Eastern region (Indian subcontinent including Indonesia).

Muhammad Quraish shihab grew up in a Muslim family environment that was devout at the age of nine, he was accustomed to following his father while teaching. His father Abdurrahman shihab (1905-1986) was a person who formed a lot of personality and even later science. He completed his education at jam'iyyah al-Khair Jakarta, the oldest Islamic education institution in Indonesia. His father was a professor in the field of interpretation and had served as Chancellor of IAIN Alauddin Ujung Pandang and also as a founder of the Ujung Pandang Indonesian Muslim University (UM1).15

Prophet Ibrahim always gave all the tests of his life to Allah, accompanied by prayers that were said. For example, when the prophet Ibrahim left his wife and son (Siti Hajar and the prophet Ismail) whom he loved so much in a barren and tree-free area, but because it was at the command of Allah, prophet Ibrahim did it willingly to welcome Allah's call.  
The hadiths related to spiritual education are:
That means:
"From Abi Yahya Suhaib son of Sinan ra said: That the Prophet Muhammad said:" It is amazing, in fact all the affairs of the believer is full of kindness, if he gets pleasure he is grateful, then it becomes goodfor him, and if afflicted with difficulties he also From the above hadith we can find at least two important keywords in spiritual education, namely to be patient and grateful.

The essence of spiritual intelligence is the effort of someone as a creature of God to believe in the existence of Allah. People who have spiritual intelligence have good self-control, are not selfish, let alone act wrongfully to others. The motivations that drive him to do something are also very unique namely knowledge and tmth, as can be seen from the life history of the prophets and the biographies of intelligent and creative people usually have high moral integrity, piety and of course also spiritual integrity.  

In modern times, intellectuals try to bring forth the theory of intelligence to face and solve problems of meaning and value, as people know, spiritual intelligence (Spiritual Qoution) or abbreviated as SQ. Spiritual intelligence is related to the ability to meet the needs of the human spirit, in the form of worship so that he can return to his creator in a holy state. So spiritual intelligence is the intelligence of the heart that is related to one's inner quality. This intelligence directs someone to do more human, so they can reach noble values that have not been touched by the human mind.  

Humans realize that happmess as a subjective feeling is more determined by a sense of meaning. Meaningfulness for other humans, for nature, and especially for the great power that humans realize is God. 1--lumans are looking for meaning, this is an explanation why in a state of pain and misery some people can still smile. Because happiness is created from a sense of meaning, and is not synonymous with achieving goals.

2. Literature Review
1.2. Previous Study (subheading)
Spiritual education the strengthening of spiritual strength for children and the cultivation of faith in themselves as a form of fulfilling their religious instinctual needs, managmg their nature with manners and increasing their tendencies (determination, talents), and direct them to the spiritual values, principles, and role models they get from true faith in Allah, his angels, books, apostles, the last days, and their good and bad destiny.  

Spiritual based education in this paper is defined as a concept, an education system that emphasizes the development of spiritual or spiritual abilities with spiritual standards that can be felt by students to achieve the perfection of life according to Islamic standards. The development of spiritual abilities is not limited to students, but includes all educational practitioners. This departs from the assumption that educating and following education is worship. Worship functionally aims at spiritual enlightenment.

Spiritual Based Education is based on the belief that educational activities are worship of Allah SWT. Humans were created as servants of Allah and were given the mandate to maintain the sanctity. In general, spiritual-based education focuses on spirituality as the main potential in driving every action of education and teaching, in this case understood as a source of inspirational normative in educational and teachmg activities, and at the same time spirituality as an educational goal.  

Actually time spiritual education is described as one of the measuring tools (standard measure) in developing various kinds of human personalities with a complete growth / development (including all things), is a source of guidance for reason. With faith in Allah SWT and validate Him (His monotheism), and clarity of the soul with peace and calm, purify morals by beautifying themselves with virtue, moral values, and good role models, cleanse the body by using it in the right path and prevent it against immoral behavior and abominable behavior, and encourage it to worship and do good deeds that benefit individuals and groups (society), and also a good relationship with others in the community with the presence of solidarity, synergy (mutual support), and mutual helping each other with kindness and piety.  

Howard gardner, the originator of the theory of multiple intelligences, chose not to include spiritual intelligence into "intelligence" because it was against scientific codification of measurable (quantitative) criteria. Instead Gardner suggests a suitable "existential intelligence". Gadner's partners have responded by researching existential thought charts as a basis for spirituality. However, Gadner forms a scientific foundation in the discipline of educational theory and interdisciplinarity, which results in the emergence of discourse on spiritual intelligence.  

Basic knowledge that needs to be understood is that spiritual intelligence is not necessarily related to religion. And people who have a good spiritual intelligent will match between the heart, words, and deeds, in harmony with what is in his heart, words and deeds.

M.Quraish shihab further explained that the potential of the heart includes the potential to be able to reach inspiration and nur  light of God. The first prmcipal tool for knowmg in material objects is the ear and eyes, the main tool for obtaining immaterial knowledge is the heart. Knowledge in reality has an invisible aspect of being whose eyes and minds cannot grasp it. Many essences of knowledge cannot be reached by the senses and mind, such as inspiration and revelation. The truth of inspiration and revelation is not easily accessible to the senses and minds, and will be more easily captured  understood by using the potential of the heart.24

The author's analysis that spiritual intelligence is used in placing values, means that each individual can position himself to form good behavior. Ary Ginanjar defines spiritual intelligence as: The ability to give meaning to worship for every behavior and activity through steps and thoughts that are natural, to be human, and have a monotheistic mindset (integralistic), and principled only because ofAllah. 

Spiritual intelligence can be implemented if humans are able to behave properly according to the nature of the soul so that they have a good mindset in drawing closer to Allah.
According to Toto Tasmara: Spiritual intelligence is a person's ability to listen to his conscience or the whisper of divine truth in the way he makes decisions or makes choices, empathizes, and adapts. Spiritual intelligence is largely determined by efforts to cleanse and enlighten the heart so that it can provide advice and direction of action and how we make decisions. 

Every human being has a mind and thought, but people's ability is not all the same in thinking. Some have hard thoughts and hearts and some are soft. All depends on the human personality in acting.
Meanwhile according to Marsha Sinetar: Spiritual intelligence is thought inspired by the encouragement and effectiveness, the existence or life of the divinity that unites us as its parts. Furthermore, Marsha Sinetar said that spiritual intelligence is light, the kiss of life that awakens our sleep lives. 

Spiritual intelligence involves the ability to live the deepest truth. That means realizing the best, whole, and most humane thmg in the mind. Ideas, energy, values, vision, encouragement and direction of the vocation of life flow from within, from a state of consciousness that lives in love. This means, that spiritual intelligence makes humans to live with others with love, sincerity, and ihsan which all lead to the Divine. 

Definitively, spiritual education seems to have been widely stated by various experts. Ahmad Suhailah argued that spiritual education is the inculcation of Allah's love in the hearts of students which makes them expect the pleasure of Allah SWT in every words, deeds, attitudes, and behavior, then away from the things that cause His wrath.  

Abu Bakar Aceh defines spiritual education as an effort to seek a relationship with Allah through the process of education and trainmg so that one can meet (liqa and umte oneself with His Lord.   The Sa'id Eve defines spiritual education in Islam as an effort to cleanse the soul towards Allah SWT. From a dirty soul to a clean soul, from a mind that has not been subject to the Shari'a to a mind that is in accordance with Shari'a, from a hard and diseased heart to a calm and healthy heart, from a spirit that moves away from the door of Allah SWT negligent in worshiping and not really doing it, towards the spirit that knows Allah SWT, always exercising the rights to worship Him, from the physical that does not obey the Shari'a rules to the physical which always holds the Shari'a rules of Allah SWT.  

According to Imam Ghazali the quality of the heart, clean or dirty, bright or dark is very dependent and determined by human behavior itself. It is said if he loves religion and likes to do goodness then his heart is clean and bright.

Human nature has been created (held / born) by Allah SWT, and He has called for in their self-nature the natural tendencies of faith, monotheism and diversity. The important effects of spirit education are as follows:
1. Sincere to Allah SWT
One of the most important influences of true spirit education is to instill sincerity in a believer, by making his intentions, words, and actions carried out sincerely for Allah SWT, he does not seek it except Allah's pleasure, they are free from the desire to seek pleasure, glory, and worldly thmgs.

Indeed sincerity to Allah SWT in all goals and efforts will establish a direct and lasting relationship with Allah SWT, and purify the soul of a believer and cleanse himself, and make him a pious servant in his religion and his world for himself his family, and each individual society where he lives, and make it always obey and pay attention to his Lord in every movement and condition and he faces him with all his soul, with dhikr in his oral, by taking lessons in his mind, his resolve, and with all the deeds and efforts he did through his hands and feet.  

2. Tawakkal (Submission) to Allah SWT
Tawakkal to Allah will spread in a believer peace, tranquility and comfort, it is related to mental health, intellect and health of the body because it is resignation to Allah guarding themselves from fears, mental illness, frustration, tendencies , the pressure of the mind that can make human happiness into distress and suffering, their calmness becomes chaos, optimism becomes pessimistic, positive things become negative and success becomes a failure. 35

Surely resignation to Allah SWT is important for the soul, mind and body that is needed for every human being both capable and weak people, those who judge and are judged, big or small, male or female, knowledgeable or charity, all need Allah SWT because He is able to grant their prayers and can fulfill their requests, help them improve, and alleviate their sufferings.

3. Istiqomah
One important influence in spiritual education is the formation of istiqomah habits for a believer, which means that he always does all the commands of Allah and away from all his prohibitions, and keeps His rules, and he always feels the existence of God (the existence of Allah ) at all times and places, and encourage himself to seek His pleasure in all deeds and always put his trust (facing) to Him with all his intentions, with that the habit istiqomah stuck in him and run throughout his life, and always refers to Al-Qur'an and the Last Sunnah of the Prophet Muhammad SAW in terms of what appears (dhahir) and which is hidden (inward), and in intention and charity, in purpose and manner, as well as in religion and the world.

Just as this istiqomah habit has a positive influence on people's lives, if this habit applies to each individual community, it will spread a sense of security, and comfort and be included in a society of compassion, love for others, solidarity, tolerance, and integration, and awake from the elements that damage, divide social relations, and morals that are despicable. 36 Tell the good and oppose (forbid) munkar.

The most important influence, or the most mature fruit of the education of the spirit, is the principle of "ordering the goodness and contradictions of negativity" that gives the greatest influence in the education of a believer, in implanting his head and guarding him from misrepresentation, mistakes, and immorality, while in the life of society it guards it from the elements that destroy, and undermine the dignity caused by the spread of damage, ugliness, and evil which is visible or hidden. 37
as in religion and the world.

Just as this istiqomah habit has a positive influence on people's lives, if this habit applies to each individual community, it will spread a sense of security, and comfort and be included in a society of compassion, love for others, solidarity, tolerance, and integration, and awake from the elements that damage, divide social relations, and morals that are despicable. 36 Tell the good and oppose (forbid) munkar.

The most important influence, or the most mature fruit of the education of the spirit, is the principle of "ordering the goodness and contradictions of negativity" that gives the greatest influence in the education of a believer, in implanting his head and guarding him from misrepresentation, mistakes, and immorality, while in the life of society it guards it from the elements that destroy, and undermine the dignity caused by the spread of damage, ugliness, and evil which is visible or hidden. 37

With efforts to familiarize children with the prmciple of amar ma'rif nahi mungkar, efforts to spread moral values in life based on purity, cleanliness, and explain guidance, all it becomes a guard agamst opposition, division, deviation, and protection from all damage, loss and error.

The heart is also the most important element in influencing human behavior. With this heart humans are able to differentiate between good and bad. The heart is like a torch for humans, if the human being is able to use the eyes of his heart. The heart is the place of the spirit, which is first affixed by Allah to supervise human actions. According to Amir al-Mu'minin Ali, qalb has the equivalent meaning Shadr, Fu'ad, Lubb and Syagaf. Shadr is the place where nur (light) is published, Fu'ad is the place where the ma'rifah is published to Allah, Lubb is the place where monotheism is published, and shahghaf is the place where human love for each other is published.  

Heart in Arabic is called qalb which is derived from the verb qalaba inqalaba and qallaba which means to turn around, change or move around, the plural is qulub.   1n Sufi terminology, the heart is a spiritual heart, because the heart is an embodiment of different aspects of Allah, which describes an aspect related to Allah and beings. He accepts gifts from Allah and communicates them to creatures.

The Prophet's hadith is said that "If a lump of meat is good, it will be good for the whole body and if the lump is not good then, it will also be a bad body too, remember that it is a human heart" According to Ibn Kathir there are four forms of the human heart including; first , a clean heart like a bright lamp that is the heart of a believer who wants to use the eyes of his heart for the light of his life. Second, a heart that is closed and bound to the lid is the heart of an infidel who does not want to accept the truth. Third, an upside down heart, that is the heart of hypocrites, and fourth, a heart that is layered, a heart in which there is faith and hypocrisy.

Seeing from this meaning, the heart is a place that is in a decisive condition in human actions. Therefore, the heart needs to be educated to inspire spirituality. Spiritual education is intended so that the human spirit that is in the heart is always in contact with Allah at any time, both in the mind of thinking, feeling, and doing.

The method that needs to be done is by way of training the spiritual moral sensitivity that is by way of oral charity, dhikr, praying, istigfar, repentance, think positively, always learn from mistakes, and draw lessons from the events experienced. According to Sayyid Qutuhb there are five ways to increase spirituality in the heart, namely: first, increasing the sensitivity of the heart under the reach of Allah who can create anything in this sheet of nature. This is done so that humans always feel that Allah is infinite. Second, to increase the sensitivity of the heart to the continual ownership of Allah, or in other words Allah is always watching him wherever he is and we cannot escape from Him. Third, he remembers the feeling of piety to Allah that is continually in his heart. Fourth, feel love for Allah in order to seek His pleasure. Fifth, sacrifice a feeling of peace with Allah both in adversity and in any circumstance. The goal is an inner contact between himself and Almighty Allah.  

One of the characteristics of human beings is to have mind. Allah gives mind to humans to think both formally empirically, and abstractly. The word 'aqal' is derived from Arabic which is formed from the verb 'aqala' which has a binding and restraining meaning. Thus the mind functions to bind and withhold from various human experiences both seen and felt then mixed for conclusions to act. According to Ibrahin Madkur, human mind has spiritual potential that can distinguish between the right and the vanity. Therefore, someone who is intelligent is someone who is able to hold back his lust so that his lust cannot takeover himself and he is able to understand the truth, because the person who is controlled by his lust is a person who is prevented from understanding the truth.  The purpose of given mind to humans is to understand the truth that results from empirical or sensory experience as well as abstract experience. Therefore, in the language of boarding school known as "already akil baligh" means Muslims who have been able to distinguish good and bad, right and wrong, rewards and sins, then that person has been subject to law, bearing in mind he has been able to use his mind in his brow life grown.
According to Sa'id Hawwa, mind is divided into two namely taklifi sense and shar'i sense. Taklifi sense is the lowest intellect possessed by a believer (responsible for his actions later before Allah). Whereas syarri '(perfect sense) is a human restraint of his lusts at the command of Allah.  

The ability of the intellect of each person is not the same, there is more and there is less. In this case, he divided his mind into  three groups, namely; first people who have a healthy mind, intelligent, and honest in thinking (al-rasikh fi al-ilm) or often called the Kiai (cleric). For such reason the method applied in increasing the spirituality of his mind by inviting the way of Allah by wisdom. Namely expressing strong and convincing grounds so that they know the nature of truth. Such reason usually always seeks the essence of truth which is based on various approaches formulated to understand religion and the universe from the form of a divine image. 

Second is a group that has a mind that has not been neatly arranged, namely the ordinary lay people. For this they need guidance, and advice that is easily understood, or in other words with the example (uswah). Whereas for the third is the reason of the thinkers (philosophers), this group is only based on the ability of the ratio alone to make an understanding of the truth. They will reject something that is not rational in their view. For this group the method used so that they have spirituality in their thinking by using a pattern of debate that is abstark or postmodersim.

4.2 Urgency ofSpiritual Education
Spiritual education is the cleansing of the soul or a journey to Allah. According to Said 1--lawwa the core of spiritual education is the transfer from a dirty soul to a soul that is clean from the mind that has not been subject to the Shari'a to the obedient mmd to the Shari'a from a diseased and hardened heart to a calm and prosperous heart from a spirit far from the "door" of Allah , who are negligent in worshiping and are not serious in doing so, towards a spirit that is ma'rifah to Him, always carrying out the rights of worship to Him; from a body that does not obey the rules of the Shari'ah to the physical which always holds the rules of His Shari'ah, both words, deeds or circumstances.

Accordmg to Aly Abd Al-Halim Mahmud, spiritual education is an effort to internalize a love for Allah that makes a person only hope for His pleasure in every word, deed, personality, and stay away from everything he hates.  

Thus spiritual education has a very close relationship with the discipline of Sufism. According to Ma'ruf Zariq and Ali Abd Al-I--lamid Sufism is the knowledge that knows how to purify the soul (tazkiyah alnafs), purification of morals (tasfiyah alakhlak) and build prosperity and happmess eternally both physically and mentally.  Sufism is a means to recognize the subject of the human soul whether it is good or bad. If it's still bad, then he must fry to fix it, decorate it with the qualities he feels, and how to get to the divine presence. The explanations above, not only explain the bottom line between spiritual education and Sufism, but both of these disciplines discuss and educate the same object.

Islamic education is a study of education which has an important role to be learned by every Muslim, who wishes that education can take place smoothly and achieve goals. The urgency to study Islamic education includes.
l . Islamic education as an effort to shape the human person must go through a long process with results that cannot be known immediately, in contrast to forming inanimate objects that can be done in accordance with the wishes of the maker.
2. Islamic education, in particular, which origmates from Islamic religious values, besides instilling and shaping life attitudes that are imbued with these values, also develops the ability to learn knowledge in line with the underlying Islamic values. educate in the direction of maturity that benefits him.
3. Islam as a religion of revelation revealed by Allah with the aim to prosper and make life happy and the lives of humankind in the world and the hereafter, can only have ftnctional and actual meanmg in humans if developed in a systematic educational process.

3. Biography of Muhammad Quraish Shihab
Quraish shihab was born on 16 February 1944 in Rapang, South Sulawesi. A shady figure with a straight and charismatic figure, with a height of 172 cm, a balanced weight, typical speech, neatly combed black hair, oval face, glasses, and fair skin. He comes from a family of highly educated Arab descendants. His father, KH. Abdurrahman Shihab was seen as one of the educator figures who had a good reputation among the people of South Sulawesi. His contribution in the field of education is evident from his efforts to foster two universities at the point of view, namely the Indonesian Muslim University (UMI), the largest private tertiary institution in the eastern part of Indonesia, and IAIN Alauddin at the point of view, and he is also listed as the rector at both These universities: UMI 1959-1965 and 1972-1977. 1nformally, often preaching, delivering spiritual splashes to mosques.
 
Besides preaching bi al-verbal, he also did not hesitate to do the preaching bi al-hal or even bi al-amal. So he is very encouragmg of the progress of Islamic education in South Sulawesi. In addition to donating Islamic books, he also likes to financially help Islamic educational institutions there.

As an open-minded person, Abdurrahman believes that education is an agent of change. Such an advanced attitude and outlook can be seen from his educational background, namely Jami'at al-Khair, the oldest Islamic educational institution in Indonesia. Students studying at this institution are taught about the ideas of Islamic movement renewal and thought. This happens because this institution has a close relationship with sources of renewal in the Middle East such as Hadramaut, Haramayn and Egypt. Many teachers were brought into the institute including Shaykh Ahmad Sorkati who came from Sudan, Africa. 49

As the son of a professor, M.Quraish shihab received initial motivation and seeds of love for the field of interpretation studies from his father who often invited his children to sit together. It is at times like this that the father delivers his advice that is mostly in the form of verses of the Qur'an. The little Quraysh shihab has been struggling and loving the Qur'an since the age of 6-7 years old. He must follow the Qur'an study conducted by his own father. In addition to tell him to read the Qur'an his father also briefly described the stories in the Qur'an. Here, the seeds of his love for the Qur'an began to grow.

Quraish shihab gained much of its intellectual base from the family environment, in this case the strong influence of his father. As stated: "Our father, the late Abdurrahman shihab (1905-1986) is a professor in the field of interpretation. Aside from being an entrepreneur, since he was young he also preached and taught. Always leaving the time, morning and evening to read the Qur'an and the commentaries. Often he invites his children to sit together. It was at times like this that he delivered religious advice. Many of the tips that I later knew as verses of the Qur'an or the advice of prophets, friends, or experts of the Qur'an, which until now still ring in my ears „ .50

The influence of the importance of science and education was not only obtained from his father, but also came from his mother. In the narration of the Quraish shihab himself, his mother, Asma Aburisah (1912-1984), always encouraged himself and his siblings to study diligently and did not hesitate and got bored reminding them to practice religious teachings, both when they were small or growing up, or already a doctor though. In addition, his success and enthusiasm is inseparable from the support of relatives, family and the environment. 51

His formal education starts from elementary school. After that he went on to junior high school in Malang while becoming a student in Dar al-hadith alfaqihiyyah Islamic boarding school in the same city. In this boarding school too, he found the teacher and murshid, who were considered by him the most influential people besides his father and mother, this was expressed in order to answer who his teacher was, the answers were "very much". However, there are two figures who cannot escape his memory. This was expressed in one of his books, he said to deepen his Islamic studies, at the age of 14 years, the Quraish shihab was sent by his father to alAzhar, Cairo, in 1958 and accepted in the second grade Tsanawiyah. After that, he continued his studies at al-Aazhar University at the ushuludin faculty, majormg in commentary and hadith and finished in 1967 by earning an Lc (bachelor level). Then he continued his studies in the same department and university and won an M.A. in 1969 defending a thesis specializing in "I'jaz alQuran" entitled "al-I'jaz al-Tashri'i al-Quran al-karim (miracles of the Qur'an from a legal standpoint). 

In 1973 Quraish shihab did not immediately continue his studies to the doctoral program, but he preferred to return to Makassar, besides he was indeed called home to the point of view by his father who was then serving as rector, to help manage education at IAIN Alauddin. In the course of his time he was the vice rector of academics and student affairs from 1974 to 1980. Besides occupying that official position, he also often represented his elderly father in carrying out certain basic tasks. Successively after that the Quraysh shihab was handed over various positions, such as the coordinator of private tertiary institutions VII in eastern Indonesia in 1967-1980, assistant chief coordinator between the eastern Indonesian police in the field of mental development in 1973-1975, and a series of other positions outside the campus. He still had time to complete several research assignments, including the application of religious harmony in Indonesia (1975) and waqf issues in South Sulawesi (1978). 53

In a period of approximately eleven years between 1969-1980, he plunged into various activities while gaining empirical experience, both in academic activities and in various local government institutions, and to realize his ideals he explored interpretive studies. So in 1980 the Quraysh shihab returned to study at al-Azhar's, specializing in the study of the interpretation of the Qur'an. With his eleven years of experience, he doesn't need to finish his doctoral program long. It only took two years to obtain a doctorate in this field precisely in 1982. His dissertation entitled "Nazm alDurar li al-Biqa'i Tahqiq wa dlrasah (a study of the Nazm al-Durar (pearl series) by AlBiqa'i) was successfully defended by the title of summa cum laude with the award of mumtaz ma'a the dignity of al-Sharaf al-Ula (exemplary scholar with special achievements).

Seeing his educational background above, overall Quraish shihab has gone through intellectual development under the care and guidance of al-Azhar university from Tsanawiyah, aliyah, bachelor degree, master degree, to doctoral degree. Thus, it is almost certain that the climate and scientific traditions in Islamic studies within the alAzhar University environment have a great influence on the intellectual tendencies and patterns of religious thought. Egypt with alAzhar universities such as Jansen expresses itself as the most orthodox Islamic institution. Besides being the center of the Islamic reform movement, it is also the right place for the study of the Qur'an. A series of popular figures such as Muhammad Abduh and Rashid Ridha are well-known commentators. Indonesian students who continued their studies in Egypt even became Haramayn's rivals in Islamic studies.54

Quraish shihab higher education, mostly in the Middle East, Al-Azhar, Cairo by howard M. Federspiel is considered as unique to Indonesia at a time when part of education at that level was completed in the West. Regarding this he said "while researching his biography, I found that he came from South Sulawesi, was educated in an Islamic Boarding School, and received his high education in Egypt at Al-Azhar University, where he received his M.A and Ph.D degrees. This makes him better educated compared to almost all other authors contained in the Popular Indonesian Literature Of The Qur'an and, moreover, his high level of education in the middle east makes it unique to Indonesia at that time where most of the education at that level resolved in the West. He also has an important teaching career at IAIN's perspective, Jakarta and now, he serves as rector at IAIN Jakarta. This is a very promment career.

1984 was the second phase of the new phase for Quraish Shihab to continue his career. That round he started from the transfer of assignment status from IAIN Ujung Pandang to the Faculty of Usuludin at IAIN Jakarta. Here, he actively taught the field of interpretation and ulum al-Qur'an in the bachelor, master and doctoral programs until 1988. In addition to carrying out his main duties as a lecturer, he was also entrusted to hold the position of Chancellor of the Jakarta IAIN for two periods (19921996 and 1997-1998), and sharia board members of Bank Muamalat Indonesia (1992-1999).  After that he was trusted to hold the position of Minister of Religion for about two months in early 1988, the era was reelected and the resignation of President Soeharto, in 1995-1999 was elected as a member of the national research council, from 1998 until now he was appointed as the Council of the Ministry of Islamic Qur'an Indonesian, until then he was appointed as extraordinary ambassador and in full authority of the Republic of Indonesia for the Arab Republic of Egypt and concurrent republic of Djibouti and Somalia, based in Cairo during the reign of president Baharudin Yusuf Habibi. It was here that he devoted most of his most monumental work as a master pice expert on contemporary Indonesian interpretation early writing in Cairo on Friday, June 18, 1999 M. / Rabi alawwal 1420 H, and was completed as a whole in the morning in Jakarta Friday 8 Rajab 1423 H. Coinciding with September 5, 2003, the efforts have been completed to provide the readers with the interpretation of the Qur'an al-Karim.

The presence of Quraish shihab in the capital Jakarta has provided a new atmosphere and was warmly welcomed by the community. This is evidenced by the various activities carried out in the midst of the community. Besides teaching he also has and is trusted to hold a number of positions outside of campus. Among them are as members of the MPR RI (1982-1987, 19872002), head of the Indonesian Ulema Council (MUI) center (since 1985-1998), members of the national education considerations 1988-1996, members of the national accreditation 1994-1998, director of the cadre MUI scholars 1994-1997. He was also involved in a number of professional organizations including the assistant chairperson of the Indonesian Muslim Scholars Association (ICMI), when the organization was founded. Subsequently he was also listed as an administrator of the sham sciences association, and a board of consortiums of the religious sciences department of education and culture. Other activities that he does is as the editorial board of Islamic studies: Indonesian Journal for Islamic Studies, Qur'an Ulumul, Ulama's pulpit, and reflections on religious and philosophy studies journals. All of these publications are in Jakarta. As the port of scientific peak not to say the latter, he is the founder and also the director of the Al-Quran study center (PSQ) located at Jl. Pisangan, Ciputar Tangerang.   

In addition to the above professional experience activities, Quraish shihab is also known as a reliable writer and speaker. Based on a solid scientific background which he traveled through formal education and was supported by his ability to express opinions and ideas in simple, but straightforward, rational, and moderate thinking tendencies, he appeared as a lecturer and writer acceptable to all levels of society. Quraish shihab is indeed not the only expert on the Qur'an in Indonesia, but his ability to translate and convey the messages of the Qur'an in the context of the present and modern makes it better known and superior to other Al-Quran experts.

Quraish shihab is an interpreter who is an educator. His expertise in the field of interpretation is to be enshrined in the field of education. His position as assistant rector, rector, mmister of religion, MUI chairman, expert staff of the minister of education, members of the education considerations, writing scientific papers, and lectures are very closely related to educational activities. In other words, he is a scholar who uses his expertise to educate the people. 57 He also did this through his attitude and personality which were full of attitudes and characteristics that were exemplary. His appearance is smple, tawadu', loving to everyone, honest, tmstwofthy, and firm in principle is part of the attitude that should be owned by a teacher.

4. Concept of Spiritual Education Accordmg to Muhammad Quraish Shihab in Surah Ibrahim Verses 35-41
4.1 Introduction of Surah Ibrahim
Surah Ibrahim is the 14th surah which belongs to the surah-makkiyah group because it was revealed in Mecca and before hijrah and consists of 52 verses.  Surah Ibrahim consists of 52 verses is the 14th surah in terms of the order of its writing in the Al-Quran manuscripts, while in terms of descending order it is the 70th surah that descended after surah as-Shura and before surah al-Anbiya.  

Surah Ibrahim consists of 52 verses.
The majority of scholars consider the verses of the surah as a whole down before the Prophet Muhammad. Migrate to Medina. A small number of scholars excluded verses 28 and 29. Some also added verses 30 because they considered talking about the events of the Battle of Badr which took place after the Prophet. Emigrated to Medina in the 2nd year of Hijri.

Many of the surah begin with the letters Alif Lam Ra, to distinguish them, the names of these surahs are named after certain prophets whose stories are mentioned or where they were sent, such as al-Hijr. This surah is named surah Ibrahim because he talks about the story of the Prophet Ibrahim, although the description of 111m is found in several other surah.

Ibrahim in question is the prophet Ibrahim, who by some experts is allegedly born in 2893 before the emigration, and died in 2818 before the emigration. HIS tomb is in the city of al-khalil, Palestine.  According to the Qur'an and its translation by the Indonesian Department of Religion, the Surah Ibrahim consists of 52 verses, including the Makkahyah surah group because it was revealed in Mecca before the emigration. Called the surah "IBRAHIM", because this surah contams the prayer of the prophet Ibrahim As, namely in verses 35 to 41. This prayer includes: a request that Ins descendants establish prayer, kept away from worshiping idols and so that Mecca and the surrounding area becomes safe and prosperous area. The prayer of the prophet Ibrahim As, this has been permitted by Allah Almighty, as has proven its security since ancient times until now. The prayer was offered by him to the presence of Allah after completing building the Ka'bah with his son Isma'il As, in the barren land area of
Mecca. 

The main points:
1. Faith
The Qur'an is the guide of mankind to the path of Allah, everything in this world belongs to Allah; man's denial of Allah does not diminish his perfection; Allah is the almighty power of killing man and raising him up agam in a new form; Allah's knowledge includes the born and the inner.
2. Laws
The command to establish prayer and spend some of the assets, both secretly and openly.
3. Stories
The story of prophet Musa As. With his people and the story of the ancient apostles.
4. And others
Because the apostles were sent in the language of their own people; the parable of the righteous deeds and words; the events of heaven and earth contain wisdom; various kinds of favors of Allah to humans and Allah's promises to the servants who are grateful for Him.  

4.2 Interpretation of Words
In the Qur'an, Ibrahim, verses 35-41 refer to Tafslr al-Misbah, some important vocabulary that requires an explanation of meaning, which is as follows: worship  idols  following me  heart  we hide  we were born 

In the view of Sufis, humans tend to follow the passions. He tends to want to rule the world or try to rule in the world. According to Al-Gazali, this way of life will bring people to the brink of moral collapse.  Enjoyment of life in the world has become the goal of the people in general. This view of life causes people to forget their appearance as servants of Allah who must walk on His rules.

To remedy the bad mental state, someone who wants to enter the life of Sufism must go through several stages that are quite heavy. The goal is to master the lust, suppress the lust to the lowest point and if possible turn off the lust altogether. The stages consist of three levels, namely takhalli, tahalli, and tajalli.

In the view of the Sufi opinion that to rehabilitate bad mental attitude requires therapy that is not only from the outward aspect. Therefore, in the early stages of entering the life of Sufism, a person is required to do the practice and spiritual training which is quite heavy the aim is to overcome the lust, suppress the desires, to the lowest point and-if possible- turn off the lust altogether therefore in Sufism morality has a stage of moral guidance system arranged as follows: Takhalli.

Takhalli is the first step that must be done by a Sufi. Takhalli is an attempt to empty oneself from despicable behavior and morals. One of the most despicable morals that causes bad morals includes excessive love for worldly affairs. Takhalli can also be interpreted to empty himself from the nature of dependence on worldly delights. This can be achieved by distancing yourself from disobedience in all its forms and trying to eliminate the impulse of evil lust.

Takhalli, means emptying oneself from the attitude of dependence on the delights of worldly life.   In this case, human beings are not asked to totally escape the problems of the world and do not necessarily ask to eliminate lust. But, still take advantage of the world of health as well as their needs by suppressing the impulses that can disturb the reason and feelings. He does not surrender to every desire, does not indulge lust, but also does not turn it off. He places everything in accordance with his proportions, so as not to hunt down the world and not too hate the world.

If the heart has been afflicted with illness or disgraceful qualities, then it must be treated. The remedy is to practice cleansing it first, which is to break away from despicable qualities in order to fill them with commendable qualities to obtain ultimate happiness.

Tahalli
After going through the stage of selfcleansing from all qualities and mental attitudes that are not good, the effort must continue to the second stage called tahalli. Namely, filling yourself with commendable qualities, by being obedient and inward.  

Thus, this thalli is a soul-filling pond that has been emptied earlier. Because, the arrears of one drink have been released but do not receive a replacement, then the vacancy can lead to frustration. Therefore, every old habit passes, must be immediately filled with one new good habit. From one exercise will become a habit and from habits will produce a personality. The human soul, said Al-Gazali, can be drilled, can be controlled, can be changed and can be formed in accordance with the will of man himself.  

Mental attitudes and noble deeds that are very important to be filled in a person's soul and accustomed to in their lives are taubah, patience, infidelity, zuhud, tawakkal, love, ma'rifah, and willingness.  1f man is able to fill his heart with praiseworthy qualities, then he will be bright.

Humans are able to empty their hearts from the reprehensible qualities (takhalli) and fill them with praiseworthy qualities (tahalli), all their daily actions are always based on sincere intentions. The whole life and movements of life were given to seek the pleasure of Allah alone. That's why humans like this can draw closer to Him

Tahalli is an effort to fill and decorate yourself by familiarinng yourself with the attitudes, behaviors, and morals. The stages of tahalli were carried out by Sufis after emptying the soul of despicable morals. By carrymg out religious provisions both external and internal. The so-called external aspects are formal obligations such as prayer, fasting, pilgrimage and others. And as for that which is in nature is like faith, obedience and love for Allah. it means to rid oneself of the despicable qualities, of immorality and mentality. Among the despicable attributes according to Imam alGhazali are anger, revenge, hasad, miser, mischief, takabbur, and others.

The qualities that illuminate the heart or soul, after the person has cleansed the heart, must also be accompanied by the illumination of the heart so that the dirty and dark heart becomes clean and bright. Because such a heart can receive radiance of Allah's light.69

When man has cleansed his heart of despicable traits and fills with those praiseworthy qualities, then his heart becomes bright and brighter and that heart can receive light from those praiseworthy qualities. The heart that has not been cleansed cannot receive the light of those praiseworthy qualities.

For the consolidation and deepenmg of the material that has been passed in the tahalli phase, the next set of moral education is the Tajalli phase. The word tajalli means the unfolding of the supernatural nur. So that the results obtained by the soul and the organs of the body that have been filled with moral pearls and are accustomed to doing noble deeds - do not diminish, then, the sense of divinity needs to be lived up further. 1--labits that are carried out with optimum awareness and a deep sense of love will naturally foster longing for Him. as the next second stage, is an effort to fill the heart that has been emptied with another content, namely Allah.

At this stage, the heart must always be occupied with remembrance of Allah. By remembering Allah, letting go of others, will bring peace. There is nothing to fear but the release of Allah from his heart. The loss of the world, for a heart that has been known, will not be disappointed. The time is busy only for Allah, humming in dhikr. At the time of tahalli, because of busyness with remembering and dhikr of Allah in his heart, other members of the body moved by themselves to hum along. His tongue was wet With the lafadz of the greatness of Allah that was endlessly echoed all the time. His hands recite the greatness of his Lord in doing. Likewise, eyes, legs, and other body parts.71

At this stage, the heart will feel calm. His anxiety is no longer in a deceptive world. His sadness is not With our children and wives who will not be with us when death takes us. The pain is not the bodily lust which often rubs off bestiality. But only to Allah. His heart is sad if he does not remember Allah every second.

Tajalli is also a term of Sufism which means "the appearance of God" which is absolute in the form of nature that is limited. 

This term is derived from the word tajalla or yatajalla, which means "self-proclaimed".
Tajali is a pivot point in Ibn'Arabi's thought. In fact, the tajali concept is the basic foundation of Ibn Arobi's view of reality. All Ibn'Arabi's thoughts about the structure of ontology greetings revolved around this axis, and from there developed into a wideranging cosmic system. There is no part in Ibn Arabi's view of reality that can be understood without reference to this mam concept. His whole philosophy, in a nutshell, is a tajali theory.72

The author will clarify the spiritual education contained in surah Ibrahim verses 35-41. Verse 35 means: And when Ibrahim said: My Lord make this country safe. Including Tajalli because it is an implementation of the prayer request of the Prophet Ibrahim to make it a safe country. The next sentence shows Takhalliyaitu distancing himself and his children from the worship of idols means to stay away from the evil.

Verse 36 means that: My Lord, indeed the idols have misled many people, so whoever follows me, in the words "then surely he belongs to my group, and whoever disobeys me, then you are truly forgiving, merciful, almighty" including Tajallidan there are elements of frivolity because they have followed orders to stay away from the evil and obey the good.

Verse 37 means: Our Lord, verily I have placed a part of my descendants in a valley that cannot have plants near Your honored home, our Lord! That is so that they perform prayers, from the words "then make the hearts tend to them and give them sustenance from fruits, hopefully they are grateful" including Tahallidan Tajalli which shows that there is an element of demand and implementation of gratitude. Verse 38 means: in the word "our Lord! Surely you know what we hide and what we deliver; and there is nothing hidden from Allah, whether on earth or in heaven "including Tajalli because nothmg is done without the command of Allah, meaning to trust Allah more than others (idols).

Verse 39 means that: from the phrase "Praise be to Allah who bestowed on me in the days of Ismail and Ishaq including Tahalli because it shows that his prayer was granted to have the child he wanted, in fact my Lord really heard the prayer.

5. Conclusions
Based on the results of the study and the results of the analysis it can be concluded that: The formulation of spiritual education in the thoughts of Muhammad Quraish Shihab is that there are values of worship, morals, creed, gratitude, patience, and sincerity. The concept of spiritual education according to Muhammad Quraish Shihab in Surah Ibrahim verses 35-41 contained material monotheism, prayer, a good environment, gratitude (faith), sincerity, worship, and love for both parents. The relevance of spiritual education in the present context to the attainment of spiritual education that is all the rituals in the worship relationship are relevant to the present context in accordance with Islamic law.

Artikel asli di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar