Senin, 05 September 2016

Cerita Peribahasa Katak dalam Tempurung

Dahulu kala, ada sebuah kolam kecil di pinggir sebuah hutan. Kolam ini sangat tersembunyi karena di kelilingi rumput dan ilalang yang cukup tinggi dan lebat. Hanya dapat di lihat dengan jelas dari angkasa saja. 

Di kolam ini, terdapat sebuah kerajaan katak. Di huni hingga ratusan katak yang berada dalam satu tempat. Tiap tahun, di kerajaan itu di adakan pertandingan gulat untuk menentukan gelar terkuat. Dan tiap tahun yang menjadi pemenang adalah pangeran pertama yang selalu andil dalam turnamen gulat itu. 

Sang raja memiliki tiga orang anak. Dan ketiganya adalah lelaki, mereka adalah pangeran yang akan menjadi pewaris tahta kerajaan itu. Semenjak lahir ketiga pangeran itu tumbuh dan besar di kolam itu. Mereka sama sekali belum pernah menjajakan kaki ke dunia luar, dunia di balik rimbunya rumput dan ilalang. 

Sebagaimana turnamen yang sudah-sudah, turnamen kali ini di menangkan juga oleh pangeran pertama. Hal tersebut menumbuhkan rasa sombong yang terus menerus tumbuh subur seiring waktu. Dia menjadi sangat angkuh, dan merasa dia adalah mahluk tak terkalahkan di dunia ini. Karena selama ini, tak ada satupun yang mampu menandingi kekuatanya, apa lagi mengalahkanya. 

Tentu saja sifat sombongnya membuat para rakyatnya menjadi membencinya. Karena dia selalu memamerkan kekuatan dan menantang siapa saja yang di temuinya, karena dia yakin, dia tak terkalahkan. Hingga pada suatu hari ketika dia tengah termenung bosan di pinggir kolam, secara tak sengaja dia melihat ada burung yang terbang melintas di atas kawasan kolam itu. 

Wah.. Mahluk apa itu? Bagaimana caranya dia bisa melayang begitu? Ah, andai aku bisa menaikinya dan menjadikanya sebagai pelayan, pasti semua mahluk di sini akan sangat menghormati ku.. Hahaha ". Fikir pangeran katak itu dengan naif. Tapi untuk mengejar burung itu, dia harus keluar dari area kolam dan menembus rimbunya rumput dan ilalang, itu adalah kawasan asing yang sama sekali belum pernah di masukinya. Tapi sifat sombongnya yang mengatakan dia mahluk terkuat, membuat dirinya tetap melangkah. 

Ketika di perjalanan, dia bertemu dengan jangkrik yang tengah makan rumput. Dengan angkuhnya pangeran katak itu bertanya pada jangkrik itu. "Hai mahluk lemah tak berguna, kau tahu kemana jalan keluar dari lebatnya ilalang ini?". Tanya pangeran itu. Merasa dirinya di panggil, jangkrik pun menoleh ke arah suara itu. 
Tapi begitu dia melihat katak yang tengah berdiri angkuh, jangkrik itu kontan tertawa terbahak-bahak. Karena ternyata yang memanggilnya dengan sebutan lemah adalah seekor katak yang tak jauh lebih lemah dari dirinya. Merasa tak mendapat respon, sang katak pun berlalu melanjutkan perjalananya. " Dasar mahluk gila..". Gerutu pangeran katak itu. 

Dia sepanjang jalan, katak yang sombong itu bertemu dengan belalang, keong, dan juga hewan kaki seribu. Katak itu bertanya pada semua hewan itu dengan sikap angkuh dan pertanyaan yang sama seperti pada jangkrik, tentunya dengan lagak sok jago dan merendahkan. Dan reaksi hewan-hewan itupun sama, mereka menertawakan si katak yang sombong itu. Dan katak itu kembali berlalu. 

Tapi, pada ahirnya katak itu menghadapi nasib yang celaka. Ketika tak sengaja dia melewati seekor ular yang sedang tidur. Dengan sombongnya dia menendang ular itu untuk membangunkan dan bertanya padanya. Sial.

Ular yang merasa terusik karena waktu tidurnya di ganggu, serta amarahnya timbul ketika melihat seekor katak yang berani menendang dia dan menjulukinya dengan mahluk lemah. 

Kontan saja ular itu langsung menyambar sang pangeran katak, dan ahirnya pangeran katak yang sombong itu mati di makan ular. Nah, terkadang.. Pengetahuan sangat di butuhkan untuk mampu bertahan hidup. Ibarat dongeng katak dalam tempurung, hanya memiliki pengetahuan terbatas hingga membuat dirinya sombong.


sumber : dongeng terbaru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar