Sabtu, 20 Maret 2021

Danau Toba dan Pulau Samosir

 


Danau Toba dan Pulau Samosir (Sumatra Utara)

Pada zaman dahulu, di suatu desa di Sumatra Utara hiduplah seorang pemuda miskin bernama Toba. la hidup sebatang kara di sebuah iembah yang landai dan subur.

Pada suatu senja, setelah pulang dari ladang, pemuda itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Namun, sudah cukup lama ia memancing, tak seekor ikan pun didapatnya. Kejadian yang seperti itu tidak pernah dialami sebelumnya. Biasanya, ikan di sungai itu mudah saja dipancing.

"Aneh, mengapa tidak seekor ikan pun mau memakan umpanku? Apa mungkin ikan di sungai ini sudah mulai habis?" ia membatin.

"Aduh, berat sekali! Ini pasti ikan yang sangat besar," Toba berusaha menyeimbangkan posisi tubuhnya.

Mata kail pancingnya tertarik ke sana kemari. Benar saja, ikan itu sangat besar dan indah. Warnanya kuning keemasan. Toba lalu mulai melepas ikan itu dari mata kailnya dan memandanginya dengan hati senang.

Akan tetapi, baru saja ikan itu menyentuh tangan Toba, tiba-tiba ikan itu berubah wujud menjadi seorang putri yang sangat rupawan.

"Si... siapa kau?" tanya Toba terbata-bata karena terkejut.

"Aku adalah ikan yang kau pancing tadi. Terima kasih telah mengeluarkan aku dari sungai itu," kata putri itu sambil tersenyum ramah. "Jika Tuan berkenan, bolehkah saya tinggal bersama Tuan di tempat ini?"

Senyum dan wajah rupawan putri itu sangat menyihir. Toba pun tak mampu menolaknya.

"Baiklah, tapi kau harus tahu bahwa aku adalah pemuda yang sangat miskin. Semoga nanti kau bisa betah tinggal di rumah gubukku."

Hari berganti, waktu berlalu, pada akhirnya Toba pun mengajukan lamaran.

"Menikahlah denganku," pinta Toba sambil berlutut.

Si putri terdiam beberapa saat, sampai pada akhirnya ia tersenyum dan berkata, "Baiklah, aku akan menerima lamaranmu. Tapi kau harus memenuhi satu syaratku." "Apakah permintaanmu itu, Putri?" tanya Toba.

"Kau harus berjanji untuk tidak pernah menceritakan asal-usulku sebagai penjelmaan ikan kepada siapa pun."

"Baiklah, aku terima permintaanmu. Aku bersumpah untuk tidak pernah mengungkit asal-usulmu."

Setelah Toba mengucapkan sumpah, keduanya lalu menikah.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir. Anak itu sangat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat buruk dan pemalas.

Suatu hari, Samosir disuruh ibunya mengantarkan bekal makanan ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah ia mengantarkan bekal makanan itu.

Karena merasa sangat lapar, di tengah jalan sebagian besar nasi dan lauk-pauk untuk ayahnya dimakan Samosir. Setelah kenyang ia pun membungkus kembali makanan itu dan melanjutkan perjalanan.

Setibanya di ladang, sisa bekal yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya.

"Wan, kau sekarang rupanya telah berubah menjadi anak yang rajin, Samosir," puji Toba sambil membuka bekal yang dibawa anaknya. Namun, alangkah terkejutnya ia melihat isi bungkusan itu yang sebagian besar tinggal sisa-slsa. Hatinya yang semula senang, segera berubah menjadi kesal dan marah. "Hai Samosir, mengapa isi bungkusan ini hanya sisa-sisa?" tanya Toba dengan wajah memerah.

"Maaf Ayah, di tengah perjalanan tadi aku merasa sangat lapar, jadi aku makan sebagian isi bungkusan itu," kata Samosir.

Amarah ayahnya semakin bertambah parah. "Anak tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan ikan!"

Sambil menangis, Samosir berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dimarahi ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucap sang ayah kepada Samosir diceritakan pula.

Mendengar cerita anaknya, ibunya berlinang air mata penuh kesedihan. Terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan soal ikan yang dia ucapkan kepada Samosir.

la menangis dan terus menangis. Sampai kemudian, air matanya mulai menyiram tanah yang dipijaknya.

Terkejut dengan air mata ibunya yang mulai menenggelamkan tubuh kecilnya, Samosir berusaba menyelamatkan diri berenang menjauh. la naik ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit.

Dari kejauhan, Samosir melihat ibunya melompat ke dalam sungai dan telah berubah menjadi seekor ikan besar. Toba, ayah Samosir, juga tak bisa menyelamatkan dirinya. la mati tenggelam oleh genangan air.

Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang kemudian dinamakan orang sebagai Danau Toba.

Sumber: Dini Ayu dalam Cerita Rakyat Nusantara 34 Provinsi

Dunia Kita Semakin Gelap

 


Dunia Kita Semakin Gelap

karya: Salsabila Husniyya

Contoh Cerpen Lingkungan Alam

Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Namun, asap kendaraan sudah menyebar ke mana-mana. Klakson-klakson mobil dan motor terus berbunyi yang menandakan kekesalan pengendara ketika macet. Ya, rumah Putri memang berada di pinggir jalan raya. Setiap pagi dan sore, Putri terpaksa untuk menghirup udara yang kotor. Pemandangan yang dilihatnya hanyalah kemacetan. Musik yang didengarnya hanyalah klakson-klakson motor dan mobil. Putri selalu berkhayal agar kelak udara yang ada di sekitar rumahnya menjadi bersih tanpa asap kendaraan, pemandangan yang dilihatnya menjadi gunung-gunung yang hijau dan langit-langitnya yang berwarna biru cerah, dan juga kendaraan-kendaraan yang berkurang.

Selain itu, Putri juga memiliki impian agar kelak ia memiliki sebuah taman yang besar dan dipenuhi oleh pohon-pohon dan bunga-bunga yang indah, lalu ia akan membuat peraturan agar tumbuhan-tumbuhan di sana tidak boleh dirusak. Namun, impian itu tak akan bisa terwujud apabila Putri tidak melakukan sesuatu. Ia harus menanam pohon, bunga, dan tanaman lainnya, lalu ia harus membeli lahan yang besar untuk dijadikan taman, peralatan berkebun seperti pupuk, air, dan lainnya juga harus dibeli. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya yang banyak.

“Uhuk.. uhuk!!”

“loh? Putri kamu batuk lagi?” tanya Mia, teman dekat Putri.

“Iya, niih.. mungkin karena aku keseringan menghirup udara yang kotor,” jawab Putri.

“Hmm.. aku jadi kasihan sama kamu. Kamu udah minum obat belum?” tanya Mia lagi.

“Tenang aja.. udah kok!” jawab Putri. Lalu, keduanya pun memasukki kelas. Beberapa menit kemudian, bel masuk berbunyi. Kami memulai pelajaran. Pelajaran pertama adalah pelajaran Matematika. Selama pelajaran matematika berlangsung, Mia terlihat murung. Putri yang melihatnya, langsung memergokinya.

“Hei, Mia! Kenapa kamu murung? Kamu sakit? Padahal tadi pagi kamu terlihat ceria banget..” kata Putri.

“Oh-eh-hmm.. aku nggak kenapa-kenapa kok! Aku sehat walafiat!” jawab Mia kembali bersemangat.

“Syukurlah kalau begitu, ku kira kamu sakit atau apaa..” kata Putri sambil kembali mendengarkan Bu Moni, guru matematika. Kegiatan belajar-mengajar berakhir pada pukul 14.00 tepat. Siswa-siswi di sekolah ini kembali ke rumah masing-masing. Namun, sebelum pulang Mia ingin berbicara pada Putri. Mia mengajak Putri ke taman belakang sekolah. Di sanalah tempat favorit Putri dan Mia.

“Ada apa?” tanya Putri sambil duduk di tempat duduk yang tidak asing bagi mereka.

“Hmm.. gini, aku punya saran. Tapi kamu jangan tertawa tapi juga jangan marah, ya..” jawab Mia sambil menundukkan kepalanya. “Memangnya ada apa sih? Sampai kamu bawa-bawa aku ke sini?” tanya Putri. “Gini loh.. aku ingin mewujudkan cita-cita kamu..” kata Mia.

“Hahaha.. Nggak mungkin Mi! Kita nggak punya uang yang banyak kayak orangtua kamu. Kita nggak punya lahan yang besar untuk dijadikan taman. Kita nggak punya ilmu untuk berkebun!” tolak Putri sambil tertawa.

“Ki-kita kan nggak perlu lahan yang besar! Kita hanya perlu lahan yang ukurannya pas. Kalau ilmu, kita bisa belajar,” jawab Mia. “Memangnya kita punya lahan?”

“Punya. Keluargaku punya 1 lahan yang memang tidak terlalu besar. Namun, jika untuk dijadikan taman ukurannya tidak terlalu kecil.”

“Oh.. lalu bagaimana dengan biaya untuk bibit dan peralatan berkebun lainnya? Aku tidak mau melibatkan orangtuaku ataupun orangtuamu..”

“Ideku, kita harus membuat toko kecil sementara untuk menjual berbagai macam barang. Seperti karya seni atau apalah..” jawab Mia.

“Bagus juga! Tapi aku ingin meminta kerja sama teman-teman sekelas kita..” saran Putri.

“Oke!”

Setelah banyak bercakap-cakap, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Putri terlihat senang karena Mia mau membantu untuk mewujudkan impiannnya. Mia juga terlihat senang karena bisa membantu teman dekatnya untuk mewujudkan impiannya. Malam itu, Putri memandangi langit-langit. Lagi-lagi, ia berkhayal tentang impiannya yang sebentar lagi terwujud. Alangkah senang hatinya. Dia bersyukur sudah dipertemukan dengan teman sebaik Mia. Putri berjanji jika nanti ia mampu untuk mewujudkan impian Mia, ia akan melakukannya.

Besoknya, Putri dan Mia mengajak teman-teman sekelasnya untuk membuat impian Putri menjadi kenyataan. Alhamdulillah, ternyata semua teman sekelasnya setuju dengan tujuan Putri dan Mia dan mereka siap membantu. Hari itu juga, kami membagi-bagi tugas. Ardi akan membuat meja kecil karena ayahnya seorang ahli kayu, Nina akan membuat gantungan kunci karena ia kreatif, Dodi akan membuat spanduk dan brosur-brosur, Fani akan membuat kreasi tangan dari rotan karena ia pandai membuat kreasi tangan, Farhan akan melukis karena ia berbakat, lalu masih banyak yang lainnya. Toko kecil ini akan diadakan di rumah Putri.

Sudah 1 minggu toko di depan rumah Putri buka. Setiap harinya, toko itu selalu ramai dengan pengunjung-pengunjung yang datang untuk membeli barang-barang yang dijual di toko itu. Namun ada juga yang hanya sekadar melihat-lihat saja. Untung saja, toko itu buka saat sekolah Putri libur. Itu menjadi bermanfaat karena setiap waktu Putri dan teman-temannya bisa menjaga toko kecil mereka. Penghasilan setiap harinya, selalu tidak kurang dari 250.000,00. Alhamdulillah.. “Put, sepertinya uang kita sudah cukup untuk membeli perlengkapan berkebun dan untuk membeli bibit-bibit tanaman,” kata Mia.

Toko di rumah Putri sudah berjalan selama 3 bulan. Penghasilan yang didapat sudah terkumpul dan hasilnya lumayan. Hari ini Mia mengajak Putri untuk membeli perlengkapan berkebun dan bibit-bibit tanaman yang akan ditanam di tanah Mia yang akan dijadikan taman. Kebetulan sekali, ternyata tanah itu berada di dekat rumah Mia. Hanya berjarak sekitar 300 meter dari rumah Putri. Sedangkan toko peralatan berkebun, berada jauh dari rumah Putri. Untuk sampai di sana, memerlukan waktu 20 menit. Itu pun kalau tidak macet.


“Hmm.. iya, betul juga,” jawab Putri.

“Kalau begitu, ayo kita belanjakan!” seru Mia bersemangat.

“Hmm.. tapi aku masih ragu. Bagaimana kalau uang kita ternyata tidak cukup?” tanya Putri khawatir.

“Aku akan membayar kekurangannya,” jawab Mia enteng.

“Terima kasih Mia.. Kamu banyak sekali membantu.”

“Sama-sama, ayo berangkat!” seru Mia.

Mereka berangkat menuju toko perlengkapan berkebun. Hari ini tidak terlalu macet. Jadi mereka sampai tepat waktu. Toko ini berbentuk supermarket berkebun. Tokonya bernama “Antonio’s Gardening Supplies” Di sana mereka membeli sekop, ember, selang, pupuk, bibit, dan masih banyak yang lainnya. Setelah lelah mengelilingi supermarket yang cukup besar itu, Putri dan Mia akhirnya sampai di meja kasir. Mereka membayar tagihan. Untung saja uang mereka tidak kurang. Itu karena, Putri dan Mia membeli yang cukup murah namun berkualitas bagus.

“Mi, uangnya lebih dikit. Mau dibeliin apa?” tanya Putri di tengah perjalanan pulang mereka.

“Hmm.. gimana kalau kita menyewa tukang kayu untuk membuatkan kursi-kursi kecil yang nanti akan diletakkan di taman?” usul Mia.

“Apa!? Itu kan mahal. Uang kita sisa sedikit lagi,” tolak Putri. “Aku bisa membayarnya,” jawab Mia santai.

“Tapi, emang nggak apa-apa?” tanya Putri meyakinkan. Mia mengangguk. “Selama kamu masih bisa bantu aku untuk berjualan di toko kita.”

“Hehehe.. pastinya dong!” jawab Putri semangat.

“Pak, mampir ke toko kayu ya..” ujar Mia kepada sopirnya.

“Baik!” jawab sang sopir.


Satu tahun kemudian.

“Put!! Ini, gimana? Kamu udah beli bibit lagi belum!?” tanya Mia setengah berteriak di keramaian taman kota saat itu. “BELUM!!!” jawab Putri berteriak.

“Putri!! Paman Antonio menelepon!!” panggil Mia lagi.

“Angkat saja olehmu! Aku sedang mengurusi pelanggan-pelangganku!” jawab Putri lagi.

Itulah keseharian Putri yang baru. Setiap harinya selalu disibukkan dengan taman kecilnya. Ia harus mengurus pelanggan, menanam pohon-pohon baru, mendapat tamu, pokoknya sibuk deh! Sekarang selain di dekat rumahnya, Putri juga memiliki taman di daerah lain. Yang satu ini, benar-benar miliknya. Dan rencananya, Putri akan membuka satu lagi taman miliknya di daerah lain. Semakin hari, Putri semakin sibuk. Walaupun begitu, ia tidak lupa dengan sekolahnya. Daerah sekitar Putri semakin bersih dan kemacetan pun berkurang.

sumber disini

Kamis, 18 Maret 2021

Jaring-Jaring Kubus

 

Jaring-jaring kubus adalah model atau pola dari sebuah bangun ruang kubus yang berbentuk bangun datar. Sisi-sisi pola ini tersambung dengan sisi-sisi lainnya. Jaring-jaring kubus terdiri dari enam bangun datar persegi atau bujur sangkar.

Pola jaring-jaring kubus ini ternyata ada banyak. Yuk, cari tahu apa saja polanya!



Selasa, 16 Maret 2021

Keanekaragaman Sosial Budaya



 

Keanekaragaman bangsa Indonesia disebabkan oleh jumlah suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia sangat banyak dan tersebar di mana-mana. Setiap suku bangsa tersebut memiliki ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya.

Keanekaragaman sosial budaya Indonesia merupakan sebuah potensi kekayaan yang harus dioptimalkan sehingga terasa manfaatnya. Keragaman sosial budaya tersebut, di antaranya:

1. Keanekaragaman adat dan kepercayaan.

2. Keanekaragaman etnis atau suku bangsa.

3. Keanekaragaman bahasa daerah.

4. Keanekaragaman kebudayaan.

5. Keanekaragaman kesenian (tari dan nyanyian daerah Indonesia).'

6. Keanekaragaman mata pencahariari.

Kekayaan budaya Indonesia karena berbagai suku bangsa yang ada. Kekayaan itu beragam bentuknya. Beberapa di antaranya berbentuk bahasa daerah, rumah tradisional, pakaian adat, dan kesenian daerah berupa taritarian, alat musik, lagu-lagu, dan upacara adat. Semua budaya tersebut menjadi ciri khas tiap-tiap daerah. Berikut contoh budaya daerah di Indonesia. 

1. Bahasa Daerah

Setiap suku bangsa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa daerah setempat. Dengan demikian, keragaman suku menghasilkan bahasa yang beragam. Perhatikan contoh keragaman kata akibat keragaman bahasa daerah berikut.


Keragaman bahasa daerah tidak menimbulkan masalah antarsuku bangsa. Hal ini karena dalam komunikasi antarsuku bangsa digunakan bahasa Indonesia yang telah mampu mempersatukan perbedaan bahasa daerah.

2. Rumah Adat

Hampir setiap suku bangsa mempunyai bentuk rumah sebagai tempat tinggalnya yang berbeda-beda. Bangunan rumah setiap suku bangsa disesuaikan dengan kondisi alam. Nama rumah adat setiap daerah pun berbeda. Berikut nama beberapa rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia.



3. Pakaian Adat

Pakaian adat tradisional Indonesia merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki negara Indonesia. Banyaknya suku-suku dan provinsi yang ada di wilayah negara Indonesia maka banyak pula baju adat yang dimiliki oleh setiap suku di seluruh provinsi Indonesia. Pakaian adat di Indonesia memiliki ciri-ciri khusus dalam pembuatan atau dalam mengenakan pakaian adat tersebut. Berikut beberapa nama pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.


4. Kesenian Daerah

Kesenian daerah di wilayah Indonesia sangat beragam. Setiap suku bangsa memiliki kesenian khas terdiri atas tari-tarian dan lagu daerah. Berikut beberapa nama tari dari berbagai daerah di Indonesia.


Itulah contoh keragaman budaya yang ada dalam masyarakat Indonesia.Semua itu merupakan kekayaan negara Indonesia yang sangat dikagumi negara lain. Indonesia memang memiliki masyarakat majemuk. Namun demikian, masyarakat Indonesia tetap hidup rukun, saling menghormati, dan bertoleransi antarwarga masyarakat. Masih banyak keragaman masyarakat Indonesia lainnya.

Keragaman sosial budaya harus dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa. Ada beberapa kegiatan yang menunjukkan kebanggaan terhadap keragaman sosial budaya masyarakat di Indonesia sebagai berikut.

1. Menggunakan produk dalam negeri.

2. Mencintai kebudayaan daerah.

3. Memperkenalkan budaya Indonesia pada dunia.

4. Mempelajari keragaman sosial budaya yang ada di Indonesia.

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lingkungan Sahabat Kita (Tema 8 Kelas V), Edisi Revisi Jakarta  2017.

Minggu, 14 Maret 2021

Tangga Nada Minor dan Mayor


 

Tangga nada minor

Dalam teori musik, tangga nada minor adalah salah satu tangga nada diatonik. Tangga nada ini tersusun oleh delapan not. Interval antara not yang berurutan dalam tangga nada minor (asli) adalah: 1, 1/2, 1, 1, 1/2, 1,1.

Sebagai contoh, tangga nada A minor adalah A, B, C, D, E, F, G, A'

Tangga nada minor dapat dilihat sebagai mode musik keenam dalam tangga nada mayor. Tangga nada minor kadangkala dianggap mempunyai bunyi yang cenderung lebih sedih dibandingkan dengan tangga nada mayor.

Ciri-ciri tangga nada minor adalah:

  • Bersifat sedih
  • Kurang Bersemangat
  • Biasanya diawali dan diakhiri dengan nada La = A
  • Mempunyai pola interval: 1, ½, 1, 1, ½, 1, 1


Tanda mula tangga nada minor

Tangga nada minor menggunakan tanda mula yang sama dengan tangga nada mayor; tanda mula yang sesuai dengan pola interval suatu tangga nada minor alami dianggap sebagai tanda mula untuk tangga nada minor tersebut. Tangga nada mayor dan minor yang memiliki tanda mula sama disebut sebagai relatif; jadi tangga nada C mayor merupakan mayor relatif dari tangga nada A minor, dan tangga nada C minor adalah minor relatif dari tangga nada Es mayor.

Tangga nada mayor relatif dari suatu tangga nada minor ditentukan dengan menaikkan nada tonika tangga nada minor tersebut sebanyak satu nada dan satu seminada (tiga setengah langkah), yaitu dengan interval terts minor. Jika tanda mula suatu tangga nada, misalnya G mayor, terdiri dari satu kres, maka tangga nada minor relatifnya, E minor, juga memiliki satu kres sebagai tanda mula.


Tangga nada mayor

Dalam teori musik, skala mayor atau tangga nada mayor adalah salah satu Tangga nada diatonik. Skala ini tersusun oleh delapan not. Interval antara not yang berurutan dalam skala mayor adalah: 1, 1, 1/2, 1, 1, 1, 1/2.

Sebagai contoh, tangga nada C mayor adalah C, D, E, F, G, A, B, C'Ciri-ciri tangga nada mayor adalah:

  • Bersifat riang gembira
  • Bersemangat
  • Biasanya diawali dan diakhiri dengan nada Do
  • Mempunyai pola interval: 1, 1, ½, 1, 1, 1, ½