Selasa, 23 Maret 2021

Kisah Seorang Nelayan

 


Kisah Seorang Nelayan dan Kehidupan di Desa

Desa kecil ini terletak di semenanjung Minahasa Selatan. Desa ini menyimpan begitu banyak memori dalam benak orang-orang yang pernah berdiam di desa tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama, seperti saya.Dan juga bagi mereka yang baru mengunjunginya, meski hanya sebentaran saja. Desa itu dinamai Lopana.

Sore itu, saya tiba dari Amerika dengan satu keinginan kuat yang tak tertahankan lagi. Yaitu untuk kembali mengunjungi desa dimana ibu saya dilahirkan, Lopana.

Dari kota Manado, saya memerlukan waktu 45 menit sampai 1 jam untuk sampai di Lopana. Itu tentu kalau jalanan tidak macet. Perjalanan menuju Lopana memang selalu mendebarkan. Kita harus melewati jalanan panjang nan berliku. Di beberapa lokasi, terlihat jurang yang sangat dalam, bukit yang begitu tinggi, dan lereng yang amat terjal berkelok-kelok.

Pohon kelapa (nyiur melambai) terlihat mendominasi tanaman di sepanjang jalan. Kalau ke desa Sonder didominasi tanaman cengkeh, maka ke Lopana pohon kelapalah rajanya. Saya sangat menikmati perjalanan itu, walaupun cuaca tak terlalu mendukung. Mendung dan gerimis. Ini menjadikan pemandangan mata saya terbatas, dan kamera pun lebih banyak diistirahatkan saja.

Tiga puluh menit perjalanan, kita sudah sampai di sekitar desa Matani. Di desa ini jalanan mulai lurus dan tak terlihat satu kelokan sekalipun. Di sebelah kanan jalan terlihat hamparan tanaman padi yang begitu luas. Konon, di tempat inilah kelak airport Samratalungi akan dipindahkan. Desa Tumpaan adalah desa berikutnya setelah Matani. Setelah Tumpaan, baru sampailah kita di desa Lopana. Tujuan saya berlibur kali ini. Menghilangkan kepenatan hidup dan hectic-nya suasana perkotaan.


Edy sang nelayan di Lopana

Mayoritas penduduk Lopana memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Ini tentu oleh karena desa ini berada tepat di tepi pantai. Memasuki desa Lopana, bila kita datang dari arah Manado, terlihat sangat jelas kekontrasannya. Di sebelah kiri Jalan nampak jelas daerah perbukitan dan perkebunan, tempatnya bagi para petani. Sementara itu di sebelah kanan jalan, terlihat laut membiru yang begitu dekat. Inilah tempatnya para nelayan bekerja demi sesuap nasi. Demi hidup keluarga serta pendidikan anak-anak.

Adalah seorang lelaki separuh baya, sebut saja namanya Edy. Ia adalah orang yang menemani saya selama di desa itu. Dari Pak Edylah saya mendapat banyak cerita tentang kehidupan di desa Lopana masa kini. Ia sendiri adalah salah satu contoh warga desa yang senantiasa berharap suatu ketika nanti, hidup dan kehidupan mereka akan lebih baik lagi. Kesejahteraan hidup akan meningkat, walau seberapa saja.

Edy sekarang bekerja sebagai seorang nelayan. Tadinya, ia adalah seorang petani. Ia menanam rica (rawit). Tetapi pengolahan lahan tanaman rawitnya masih sangat sederhana. Ia menyiram rawit yang ia tanam dengan menimba air di sumur dengan bermodalkan dua buah ember. Bayangkan saja, berapa puluh kali ia harus bolak-balik menimba air tersebut untuk menyirami seluruh tanaman rawit miliknya di kala musim kemarau tiba. Bahkan jarak antara sumur dan lahan rawitnya lumayan jauh.

Nah, setelah cukup gagal dengan bercocok tanam rawit, ia alih profesi menjadi ‘kuli panjat’. Ya, ia mencari nafkah dengan memanjat pohon kelapa milik para petani kelapa besar, dan menerima upah harian. Namun sayangnya usia Edy tidaklah muda terus. Kini ia bertambah tua, dengan sendirinya staminanya juga sudah mulai berkurang. Tenaganya tidak sekuat dahulu lagi.

‘Sekarang kita so tako ja nae itu pohong kalapa tinggi…’ (sekarang saya sudah takut memanjat pohon kelapa yang tinggi), demikianlah ia bertutur ketika saya tanya kenapa tidak lagi memanjat pohon kelapa. Ia mengakui bahwa usianya tidak muda lagi, dan itu membuatnya takut berada di ketinggian. Banyak hal yang membuatnya harus berpikir panjang mempertahankan profesi ‘kuli panjat’nya itu.

Menyiasati kehilangan pekerjaan, Edy pun secara kreatif berpindah lokasi. Kini, seluruh upaya penghidupan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sepenuhnya ia gantungkan dari profesi barunya. Menjadi nelayan. Bermodalkan sebuah perahu sema-sema, dan sebuah perahu motor pinjaman, ia kini sudah beralih dari petani, kuli, kemudian menjadi nelayan.

Setiap subuh ia sudah keluar rumah, baru kembali setelah mentari sudah mulai memasuki peraduannya. Kadang kala, ia keluar rumah melaut pada sore menjelang malam, dan baru kembali menjelang subuh. Tak menentu. Tergantung musim dan keadaan. Juga tergantung kesehatan tubuhnya, yang tentu saja semakin menua.

Menurut Edy, sudah setahun lebih ia menjadi seorang nelayan. Sebuah pekerjaan yang ia yakini amat mulia. Benar, karena hasil ikan yang ia dapatkan setiap hari, memberi hidup bagi keluarganya, dan serempak memenuhi kebutuhan pasar ikan di Lopana, yang dengan sendirinya tentu saja memberi hidup bagi warga Lopana lainnya. Tak pelak lagi, dengan demikian maka ia menekuni pekerjaannya itu dengan motivasi tinggi dan penuh ucapan syukur.

Sore itu, dengan tubuh yang hanya dibalut celana pendek dan kaos tanpa lengan, Edy mengajak saya menuju pantai. Tubuhnya terlihat masih kekar, dengan kulit yang semakin berwarna coklat karena dibakar terik matahari terus menerus. Hari itu ia sengaja mengambil ‘cuti melaut’ demi menemani saya mengelilingi kampung. Kami berjalan beriringan di tepian pantai. Ia menjelaskan panjang lebar, bahwa banyak sekali warga kampung yang terus berganti profesi seiring dengan tuntunan hidup yang semakin menggila. Harga-harga naik tak menentu.

Saya juga melihat di beberapa lokasi pinggir pantai ada banyak gerobak sapi diparkir di sana. Bahkan ada truk-truk berukuran besar. Melihat mata saya memandang penuh tanda tanya, sebelum pertanyaan keluar dari mulut saya, Edy sudah terlebih dahulu menjelaskan. “Oh iyo, skarang dorang so ganti profesi menjadi penjual paser…” (Iya, sekarang mereka-mereka itu sudah ganti profesi menjadi penjual pasir).

Ternyata akibat meletusnya gunung Soputan beberapa tahun yang lalu memberi rejeki tersendiri bagi para warga sekitar. Banyak sekali pasir gunung yang hanyut melalui sungai menuju pantai. Di sana, pasir-pasir itu menumpuk. Warga pun menjadikannya sebagai ‘proyek sementara’. Setiap hari ada saja warga yang bolak-balik dengan gerobak maupun mobil untuk mengambil pasir-pasir tersebut, dan akan menjualnya lagi. Menurutnya, hasil dari jualan pasir lebih banyak daripada bercocok tanam kecil-kecilan. Makanya jangan heran kalau ada banyak orang yang mengangkut pasir di tepian pantai Lopana.


Kehidupan tolong menolong di kampung

Ternyata, cerita tentang betapa kuatnya ikatan tolong menolong di desa Lopana bukan hanya isapan jempol semata. Hampir di setiap rumah yang saya singgahi kala itu, pasti saya akan terus menerus ditawari makanan. Entahkah itu makanan berat, seperti nasi dan lauk pauknya, pun juga makanan ringan sejenis kue-kue khas Lopana. Dan tawaran mereka bukan sekedar basa-basi. Kalau menawarkan sesuatu maka pasti sesuatunya itu ada, bukan hanya di mulut saja.

Satu hal yang pasti, tanpa memandang itu keluarga cukup berada, atau yang miskin sekalipun, mereka akan tetap menawari Anda makan bila singgah di rumah mereka. Apapun itu. Di mata mereka tamu adalah seseorang yang mesti dilayani sebaik mungkin.“Torang nyanda mungkin mo kaseh biar….malu torang kalu nyanda kaseh apa-apa”, demikian seorang ibu tua bilang ke saya. (Artinya, kita tidak mungkin untuk tidak melayani tamu…..malu kita sebagai tuan rumah kalau tidak memberikan apa-apa).

Ada lagi kebiasaan mencolok lainnya yang semakin membuka mata saya. Bahwa di desa seperti ini, tingkat kekeluargaan dan persaudaraan masih begitu diperhitungkan. Ambil contoh, dalam kehidupan mereka masih ada itu istilah ‘pinjam api’ atau ‘minta bara’. Dan tetangga lainnya yang memilikinya pasti akan memberikan dengan senang hati. Artinya mereka masih sangat suka menolong dan sangat senang memberi.

sumber disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar